Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Rabu, 24 Juni 2015

Pergilah, aku ikhlas

Judul: Pergilah, Aku Ikhlas
Oleh: Titien SDF

Aku masih termenung menatap gundukan tanah. Merahnya masih basah berselimut hamparan kembang tujuh rupa. Aku masih tak percaya, dirimu terbaring di dalamnya.

Ingatanku melayang tiga tahun lalu, saat pertemuan pertama denganmu. Kau terlihat begitu dingin dan kaku mendampingi suamimu, nyaris tanpa suara.

Beberapa lama mengenalmu, gunung es itu mulai mencair. Nama panggilan kita kebetulan sama, kesukaan kita pun tak jauh berbeda. Tapi kau terlihat jauh lebih dewasa dari usiamu yang lima tahun di bawahku. Kepergian ibumu menjadi TKI membuatmu harus bersikap sebagai ibu untuk keempat adikmu. Itu mungkin yang membuatmu lebih dewasa.

Kita pun sering bersama mengurus segala sesuatu, kau sebagai istri kepala desa dan aku sebagai istri aleg. Kita juga sepakat untuk memajukan perekonomian desa kita, membina dan mendampingi tumbuhnya kelompok usaha bersama ibu-ibu PKK di desa kita. Dua tahun ini semua berjalan begitu baik.

"Bu, mulai bulan ini njenengan yang menghandle tugas-tugas saya. Saya percaya, njenengan lebih bisa," begitu katamu tiga bulan lalu.

"Kenapa Bu? Njenengan kan ndak ke mana-mana," tanyaku.

"Aku sudah letih. Mau menikmati kehamilanku. Lagi pula, ndak akan berpengaruh banyak kok. Kita kan sama-sama Titin. Njenengan sudah lebih dulu berkecimpung ngurusi orang banyak. Jadi, akan mudah bila cuma ngurusi PKK desa dan kecamatan. Tolong ya, jangan menolak," pintamu.

"Baiklah, aku tahu njenengan pasti sangat menanti kehadiran si kecil setelah beberapa kali keguguran. Aku mau bantu, tapi jangan putus komunikasi denganku," pintaku.

Engkau pun mengangguk. Dan hari-hari selanjutnya kulalui dengan ikhlas. Beban tanggungjawab yang kaupikulkan menambah sederet bebanku sendiri. Namun semua terasa ringan dengan komunikasi yang kita bangun. Walau waktu terasa begitu cepat berjalan, aku berharap engkau dapat segera menimang si kecil yang sangat kauidam-idamkan.

"Impian terakhirku adalah mempersembahkan seorang putri bagi suamiku," katamu waktu itu.

Aku hanya tergugu mendengarnya. Setelah apa yang banyak dia lakukan padamu, engkau selalu memaafkan dan memberi yang terbaik baginya. Terkadang aku kesal dengan sikapmu. Aku sangat tahu, sifat suamimu yang kurang menghargai perempuan dan suka mencari kesenangan sendiri. Harusnya laki-laki yang suka menyakiti hati istrinya itu diberi pelajaran. Tapi tidak, engkau memang istri sholihah. Dan kami, teman-temanmu, hanya menyimpan bara kekesalan pada suamimu dan kekaguman padamu

Aku masih bergulat dengan tugas-tugas yang menggunung ditemani sms dan bbm darimu. Juga teman-teman kita. Sesekali terdengar suaramu renyah menyapaku via telepon.

"Tak usah sering-sering ke rumah melihat keadaanku. Tugasmu sudah numpuk. Aku bisa jaga diri kok, entar aku laporan tiap hari wes," katamu beberapa minggu lalu. Jelas terlihat, wajah ayumu begitu pucat dan terlihat lelah.

"Bener ya, kalau ada sesuatu cepat hubungi aku," jawabku waktu itu.

Aku masih berusaha tenang saat memimpin acara-acara yang seharusnya kaupimpin. Menyelesaikan apa yang seharusnya kauselesaikan. Juga saat banyak yang menanyakanmu. Kujawab kalau dirimu baik-baik saja

Lalu kau mulai mengacuhkanku, saat anak sulungmu dirawat di rumah sakit. Tak ada kabar yang kuterima, sms dan bbm pun tak kaubalas. Nekat, kucari kalian dan kutemukan, alhamdulillah.

"Maaf, aku ndak ingin terlalu merepotkanmu. Lagi pula aku baik-baik saja," katamu, "berhentilah mencemaskanku. Aku sudah lelah, ingin istirahat saja."

Bagaimana mungkin aku tidak cemas. Tidak, kau terlalu baik dan terlalu berharga untuk diacuhkan begitu saja. Apa kau tak sadar? Kami semua merindukan saat-saat bersamamu? Dan kemudian, tak ada lagi sms dan bbm darimu.

Hari itu tanggal 11 Juni, tanggal perkiraan lahirnya bayimu. Sejak subuh, kucoba hubungi ponselmu, sms, bbm, tak ada jawaban. Siang pun begitu. Kulakukan tugas seperti biasa, semoga tak terjadi sesuatu yang buruk denganmu, doaku dalam hati.

Adzan isya baru terdengar saat motorku sampai di depan rumah. Aktivitas seharian Semarang-Demak benar-benar menguras energiku. Dinginnya air mandi menyegarkan tubuh. Bungsu yang seharian tak ketemu ibunya pun nggelendot minta ditemani tidur.

Mataku masih terasa berat saat si sulung memberitahukan ada telpon untukku, ternyata dari adikmu.

"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un, Bu, Mbak Titin meninggal ...," katanya menyentak pikirannku.

"Mbak Titin siapa? Ini Mbak Titin," jawabku mencari kejelasan.

"Mbak Titinku, Bu. Tadi perdarahan, habis operasi caesar ...," jawabnya lagi diikuti suara isakan. Darahku benar-benar tersirap.

Malam itu juga kupacu motor ke kediamanmu. Ambulance baru saja tiba membawamu. Kau begitu terlihat pasrah dan ikhlas, senyum tersungging di bibir yang pucat membiru.

"Bagaimana bayinya?" tanyaku pada Mila, adikmu.

"Bayinya perempuan, sehat, 3,3 kg. Mbak Titin sempat melihat dan menciumi bayinya kok. Dia bilang, "titip anakku ya, Nok. Tolong dibantu mengasuh sampai dia besar."

Orang-orang mulai pergi meninggalkan pusaramu. Suami dan dua putramu masih terduduk di sana. Mereka terlihat ikhlas, walau mereka juga tahu ada unsur keteledoran dari pihak rumah sakit.

"Njenengan tidak menuntut pihak rumah sakit?" tanya teman-teman pada suamimu.

"Apa itu bisa mengembalikannya seperti sedia kala?" dia balik bertanya.

"Njenengan benar, ini bagian dari takdir Allah. Ikhlaskan saja, in syaa Allah, dia husnul khotimah," kataku tercekat.

"Tolong, Bu. Apa yang sudah njenengan mulai dengan istri saya, jangan dihentikan. Dia pasti berharap, njenengan bisa menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya. Saya mohon," katanya.

Kupandang suami dan anak-anakmu berganti-ganti. Ada banyak harapan di sana, dan terlukis wajahmu sedang tersenyum di sana. Hatiku bergemuruh. Bagaimana pun, engkau sahabat terbaikku.

"Pergilah, aku ikhlas. Selamanya kita akan tetap jadi saudara," gumamku lirih. Kutinggalkan area pemakaman dengan lunglai, serasa ada sebagian anggota tubuhku yang tertinggal di sana.

#Demak, 22062015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar