Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Rabu, 24 Juni 2015

Syukur

"Syukur"

Malam ini aku sendirian. Menekur di antara pot-pot tanaman di teras samping Mushola Alhikmah. Terkadang, percikan air wudhu beberapa orang yang sedang iktikaf memuncrat mengenai tubuhku. Dinginnya mengusir semua rasa kantuk yang hampir mendekap.

Langit gemerlap penuh bintang. Bulan terkantuk-kantuk memetik kesunyian. Sayup-sayup terdengar lantunan ayat-ayat suci Alqur'an. Begitu merdu, begitu syahdu, begitu menenangkan jiwa-jiwa rindu sepertiku.

Mataku berkeliling, mencari-cari istri tercinta. Biasanya dia selalu setia di sampingku, tapi kali ini entah di mana. Ini pasti karena ulah anak-anak iseng yang suka bermain di teras mushola. Mereka tidak bisa duduk diam mengikuti jamaah sholat tarawih sampai selesai. Biasanya mereka keluar setelah sholat beberapa raka'at, lalu bermain apa saja di teras mushola. Kemudian kembali duduk saat imam membaca doa dan berbalik pulang dengan tergesa-gesa.

Jamaah sholat tarawih sudah usai dari jam sembilan tadi. Hanya tertinggal orang-orang yang tadarusan, tilawah, membaca Alqur'an. Begitu pun majikanku, Haji Sulchan. Usianya yang mungkin sudah tujuh puluhan tahun, tak membuatnya memilih beribadah di rumah. Beliau tak pernah absen dalam setiap kegiatan ramadhan yang diselenggarakan Mushola Alhikmah ini.

Nah, itu dia. Beliau tampak menoleh ke sana kemari, pasti mencari keberadaanku.

"Hoi! Pak Haji! Aku di sini!" teriakku sekeras mungkin.

Pak Haji terus saja berjalan bertelanjang kaki memutari teras mushola, tapi beliau tak juga melihat ke arahku. Tentu saja, anak-anak iseng itu menyembunyikanku di sini. Di antara pot-pot tanaman. Mata tuanya tentu tak melihat keberadaanku.

Aku masih saja berharap seseorang membantunya menemukanku. Tapi sia-sia, kulihat pak haji akhirnya pulang bertelanjang kaki. Dan aku masih di sini, sendirian, tanpa istri dan tanpa pak haji.

Esok harinya, penjaga mushola menemukanku.

"Ah, cuma sebelah. Mungkin sengaja ditinggalkan pemiliknya," gumamnya pelan. Ditentengnya tubuhku dan dimasukkannya ke dalam tong sampah besar di ujung jalan. Aku berusaha meronta, tapi sia-sia. Apalah daya ini.

Kuterima takdirku dengan sedih, setelah sekian lama mengikuti pak haji ke mana pun beliau pergi, aku harus berhenti di sini. Dalam tong sampah yang kotor dan bau. Padahal, biasanya pak haji memakaiku untuk memelihara kakinya agar tetap bersih.

"Kaukah itu, suamiku?"

Eh, itu suara istriku. Di mana dia? Mataku mencari-cari keberadaannya. Kugeser tubuhku sedikit demi sedikit, dan akhirnya ... kutemukan dia. Alhamdulillah, ya Allah.

"Bagaimana kau bisa sampai di sini, istriku?"

"Anak-anak iseng itu melemparkanku sampai jalanan. Seseorang memungutku dan membuangku di sini," jawabnya sedih.

"Oh, pantas. Mereka juga menyembunyikanku di antara pot-pot tanaman. Pagi ini penjaga mushola menemukanku dan membuangku kemari. Awalnya, aku sedih sekali, tapi sekarang sudah agak berkurang karena menemukanmu di sini. Semalaman aku mencarimu."

Percakapan kami terhenti ketika seseorang membuka tutup tong sampah. Aku mengenalinya, dia adalah salah satu anak yang suka iseng di mushola. Matanya berbinar melihat kami.

"Alhamdulillah, akhirnya ketemu. Aku harus segera mengembalikannya pada kakek," katanya riang.

Tangan kecil itu mengangkat  dan membersihkan tubuh kami. Guyuran air dan sabun terasa begitu menyegarkan. Dengan hati-hati, dia mengeringkan tubuh kami dengan lap kering dan memasukkannya dalam kantong plastik. Beberapa lama kami berayun-ayun dalam genggamannya.

"Assalamu'alaikum, kakek. Ihsan membawa sesuatu untukmu." katanya pada seseorang.

Sebuah tangan terjulur ke dalam kantong plastik tempat kami berada. Tangan yang sangat kukenal, tangan Haji Sulchan.

"Subhanallah, Ihsan. Ini kan sandal jepit kakek," katanya gembira. Segembira hatiku bertemu majikanku. Allah memang selalu memberi yang terbaik. Alhamdulillah.

#Demak, 24062015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar