#Bab_3_DBT
Buku untuk Laisa
Oleh : Titien SDF
"Ting tong ... ting tong ... assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam!" teriak Mbok Nah sambil berlari. Siapa sih yang bertamu pada jam sibuk begini, pikirnya. Tuan dan Nyonya Sampurno baru akan pulang lima hari lagi. Den Angga dan Non Lena juga sekolah. Mudah-mudahan pengantar kue pesanannya," pikirnya lagi.
"Eh, Non Renata," serunya kaget sesaat setelah membuka pintu.
"Boleh main kan Mbok? Aku ndak punya temen di rumah," pinta gadis itu penuh harap. Ada beberapa buku dalam dekapannya.
"Buku-buku itu buat apa Non?" tanya Mbok Nah penasaran.
"Ini buku-buku cerita Mbok. Barangkali Laisa mau baca. Main mainan yang itu-itu bosen loh ...," jawab Renata.
"Tapi Non Laisa kan belum bisa baca Non ...," potong Mbok Nah.
"Ntar Renata bacain," jawabnya.
"Na ... Le ... na ... ta ..., Na ...?" seru Laisa. Gadis itu tertatih menghampiri mereka. Wajahnya berbinar-binar melihat Renata. Mbok Nah terpaksa mengijinkan Renata masuk. Tak tega rasanya menghapus binar ceria di wajah Laisa. Tak apa Nah, mumpung tak ada siapa-siapa, biarkan Non Laisa punya teman," pikirnya.
Renata meletakkan buku-bukunya di atas karpet. Berdua dengan Laisa, dinikmatinya pisang goreng buatan Mbok Nah yang sekejap sudah tenggelam dalam kesibukannya di dapur.
"Laisa tidak sekolah?" tanya Renata memecah sunyi.
"Se ... ko ... lah ... apa ...?" tanya Laisa tak mengerti.
"Be-la-jar ..., mem-ba-ca ..., me-nu-lis ...," jawab Renata berusaha memberi pengertian. Laisa hanya menggeleng.
Renata mengambil salah satu buku dan membukanya. Diperlihatkannya apa yang tertulis di sana pada Laisa. Laisa melihat gambar-gambar yang ada di sana dengan gembira.
"Ni ... apa ...Ta?" tanyanya sibuk menunjuk-nunjuk gambar yang ada di buku. Sesekali Mbok Nah menghampiri mereka, memastikan Laisa baik-baik saja.
"Ini buku cerita Laisa, aku bacakan ya ...," jawab Renata. Cerita demi cerita dibacakannya, ada dongeng cinderella, ada kisah sepasang sahabat dan yang lainnya. Laisa terlihat asyik mendengarnya sambil ikut membolak-balik halamannya.
"Laisa pengen bisa baca?" tanya Mbok Nah melihat Laisa asyik membolak-balik buku. Laisa mengangguk senang.
"La ... isa ... bisa ... ba ... ca ...?" tanyanya sambil menunjuk dadanya sendiri. Sungguh ini sebuah permainan menarik baginya. Permainan yang belum pernah ia mainkan.
"Tentu, kalau Laisa mau belajar," jawab Mbok Nah.
"Renata ingat, mama masih menyimpan buku pelajaran membaca di rumah. Kata mama, buku-buku itu tak boleh dibuang walau sudah tak dipergunakan. Suatu saat nanti pasti ada yang butuh ...," kata Renata tiba-tiba.
"Boleh pinjam Non? Punya Den Angga dan Non Lena sudah diloakkan," kata Mbok Nah.
"Den Angga dan Non Lena siapa ya Mbok?" tanya Renata.
"Anak-anak Tuan Sampurno Non. Mereka sedang sekolah," jawab Mbok Nah.
"Oh ... pantas, aku belum pernah ketemu. Mereka kakaknya Laisa ya?" tanya Renata ingin tahu.
"Boleh pinjem bukunya kan Non?" tanya Mbok Nah lagi. Renata mengangguk. Laisa masih asyik membolak-balik buku-buku yang dibawa Renata.
"Non, tolong dengar kata-kata Mbok Nah ya. Ini rahasia," bisik Mbok Nah di telinga Renata.
"Rahasia apa sih Mbok?" tanya Renata serius.
"Tuan Sampurno dan anak-anaknya tidak suka kalau ada yang mendekati Non Laisa. Jadi, kalau Non mau main kemari, mainnya tiap jam-jam segini. Saat mereka sedang tidak di rumah," bisik Mbok Nah lagi. Apa boleh buat, rahasia harus menjadi rahasia, pikirnya.
"Memangnya kenapa Mbok?" tanya Renata lagi.
"Karena Non Laisa tak seperti gadis lainnya. Tolong Non, ingat, ini rahasia kita," kata Mbok Nah. Renata mengangguk, dadanya membuncah, dia merasa jadi orang penting.
Hari-hari berikutnya Renata rajin berkunjung menemani Laisa. Dibawanya buku-buku lamanya untuk mengajari Laisa membaca.
"A-pel...," tunjuk Laisa pada huruf-huruf di bawah gambar apel.
"Bo-la ...," tunjuknya lagi pada huruf di bawah gambar bola.
"Bu-a-ya ...," serunya saat melihat gambar cecak, mungkin dia teringat boneka buayanya.
"Bukan Laisa, itu ce-cak, bukan buaya," jelas Renata.
"Do-nat ...," baca Laisa lagi. Mbok Nah tersenyum. Buku itu penuh berisi gambar benda yang mudah dikenali Laisa. Jadi tak terlalu sulit untuk menghafalnya. Dan Renata begitu sabar menemani Laisa. Sungguh berbeda dengan Den Angga dan Non Lena.
"Non Renata sudah seperti bu guru," puji Mbok Nah mengacungkan dua jempolnya.
"Aku memang ingin jadi guru Mbok. Mamaku guru Sekolah Luar Biasa. Aku pernah diajak melihat ke sana. Banyak loh anak-anak yang kayak Laisa di sana," jawab Renata.
"Oh ... pantas, Non Renata biasa saja melihat Non Laisa," gumamnya.
"Ta ... Ta ..., bu-ku ... i-ni ... bu-at ... Sa ... ya ...," kata Laisa mendekap buku-buku Renata di dadanya.
"Boleh, besok Ta bawa yang lebih banyak," jawab Renata menganggukkan kepala. Dalam benaknya tersimpan satu rencana. Dia ingin mengajar Laisa sampai bisa membaca. Dan memberi kejutan pada mama bahwa dia bisa menjadi guru sebaik mama. Tekadnya sudah bulat kini.
"Besok Ta bawa yang lebih banyak. Semua untuk Sa, tapi ... Sa harus mau belajar membaca sama Ta ... ya ...," kata Renata pada Laisa. Mereka pun kembali asyik belajar.
"Duh Gusti, mudahkanlah Non Laisa belajar. Tunjukkanlah pada keluarganya bahwa mereka salah menilai Non Laisa ... aamiin," pinta Mbok Nah dalam doanya.
#Demak, 31032015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar