#Bab_5_DBT
Suara Hati Bunda
Oleh : Titien SDF
Ruangan itu masih terang benderang. Jam dinding menunjuk waktu pukul sebelas malam. Laila mondar-mandir di dalamnya dengan penuh gelisah. Suaminya sudah mendengkur dari tadi. Tapi entah mengapa matanya belum mau dipejamkan juga. Wajah Laisa yang dilihatnya tadi pagi seakan menari-nari di pelupuk mata. Matanya yang bulat hitam, rambutnya yang panjang, hidungnya, ah ... Laila tak bisa menghalaunya dari pelupuk mata.
Perlahan dibukanya pintu kamar. Sepi ... mungkin semua orang sudah lelap, pikirnya. Dikuatkannya langkahnya menuruni tangga, berbelok menuju ruangan di samping dapur dan kamar pembantu. Kamar gelap. Kamar Laisa.
Laila menempelkan telinga di pintu kamar. Hening, hanya bunyi napas yang teratur ditingkah suara jangkrik dari belakang rumah. Dicobanya mengintip dari lubang pintu. Gelap ... tentu saja, bukankah dia yang melarang Mbok Nah memasang lampu di situ. Itu karena dia tak ingin tahu ada kehidupan di dalamnya.
Kau harus mengambil senter, kata hatinya, kalau tidak kau takkan bisa melihat apapun. Laila memutar langkah, kembali ke kamarnya dan mencari-cari senter yang biasa disimpannya di atas meja rias. Untuk berjaga-jaga bila tiba-tiba mati lampu. Tak sengaja tangannya menyenggol gelas.
Proook ... pyar ....
Sampurno menggeliat, meraba-raba mencari istrinya sebelum membuka mata. Kosong ..., dibukanya mata menatap sekelilingnya. Matanya berhenti pada sosok Laila yang sedang bersimpuh membelakanginya.
"Belum tidur Ma? Ada apa?" tanyanya dengan mata setengah terbuka.
"Ndak apa-apa. Hanya gelas." sahut Laila. Tangannya sibuk mengumpulkan pecahan gelas yang berserakan di bawah meja.
"Kau belum tidur Ma?"
"Tadi kebangun karena haus. Habis minum mau taktaruh eh gelasnya malah mrucut ... lepas ... jatuh ...," jawab Laila berbohong, "maaf, mengagetkanmu."
Sampurno bangun dan menghampiri istrinya. Dibantunya istrinya membersihkan pecahan-pecahan gelas. Dipandanginya wajah lelah perempuan itu lekat-lekat.
"Laila, kau menyembunyikan sesuatu?" tanyanya penuh selidik, "atau ... kau masih terbayang kejadian tadi pagi?"
Laila menggeleng pelan, diangkatnya wajahnya menatap suaminya. Mencari sisa-sisa amarah yang barangkali masih tersisa di sana. Mata itu terlihat begitu cemas menatapnya. Namun entah mengapa bibirnya tak juga mau bersuara. Hanya helaan napas yang bisa dikeluarkannya, agar sesak yang menghimpit rongga dadanya sirna.
Sampurno mengulurkan tangannya. Menenggelamkan wajah Laila dalam dadanya, siap menerima hujan tangis yang mungkin akan segera jatuh. Waktu berjalan tanpa suara, hanya hati yang bicara. Masing-masing terhanyut dalam angan yang entah. Tak ada yang ingin memulai bicara, hanya tangan yang saling mendekap erat. Hingga kaki-kaki mereka melangkah, membenamkan malam pada peraduan yang senyap.
###
Adzan subuh belum lagi terdengar saat Laila selesai membasuh tubuhnya. Suaminya masih terlelap tidur. Dengan cepat dirapikannya piyama, membungkus rambut basahnya dengan handuk dan bergegas keluar menuruni tangga. Laila berhenti sejenak di dapur, menuang air panas ke dalam gelas, menambahkan kopi dan gula, mengaduknya, lalu meletakkannya di atas meja. Bau kopi yang khas menyeruak memenuhi dapur. Hemmm ... Laila menghirupnya dalam-dalam.
"Nyonya sudah bangun?" tanya Mbok Nah yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
Laila menghirup kopinya, merasakan hangat yang mengaliri tenggorokannya.
"Aku agak pusing. Mau istirahat dulu," jawab Laila pendek.
Laila menghabiskan kopinya dan beranjak bangkit. Adzan subuh mulai terdengar. Rasanya begitu syahdu memanggilnya. Disempatkannya menengok kamar Laisa. Gadis itu masih tidur dengan mengulum jari. Wajah polosnya yang terpejam serupa bayi tanpa dosa. Ada rasa bersalah yang merayap pelan. Sudah dua belas tahun, dan dia belum pernah sekalipun memperhatikan wajahnya.
Gila! rutuknya dalam hati. Lihatlah dia! Rambutnya, hidungnya, bibirnya, bukankah dia serupa engkau di masa kanak-kanak? Apakah tak ada bekasnya? Rasa yang kautanggung saat mengandungnya? Atau sudah tertutup dendam dan putus asa?
Laila menggigit bibirnya, bergegas keluar meninggalkan kamar Laisa. Ditahannya rasa yang menghentak jiwanya agar air matanya tak menetes keluar. Dia mengingatkan pada masa lalu yang menyakitkan. Yang susah payah ingin kaulupakan. Dia memang seharusnya hilang bersama masa lalu, sergah sisi hatinya yang lain.
Tidak, dia tak berdosa. Dia tak ada sangkut pautnya dengan penjahat-penjahat itu, bisik hatinya.
Kalau demikian, kenapa tak kaucoba tes dna saja? Untuk memastikan siapa ayahnya. Agar ketahuan sekalian siapa yang harus kaubenci dan yang tidak, kata hatinya yang lain.
"Astaghfirullah," gumamnya. Laila bersegera mengambil air wudhu. Subuh itu, ditumpahkanlah semua keluh yang mengganjal dalam dada di atas sajadah. Memohon petunjuk dari Sang Empunya Takdir, perihal apa yang seharusnya ia lakukan.
Sementara itu, Laisa tergeragap kaget saat mendengar suara pintu kamarnya ditutup seseorang.
"Na ... Na ...," panggilnya. Biasanya hanya Mbok Nah yang keluar masuk kamarnya.
Mbok Nah yang baru selesai menunaikan sholat subuh bergegas mendatanginya. Tapi ternyata gadis kecil itu sudah tertidur lagi. Diusapnya kening Laisa lembut, dan ditinggalkannya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dibukanya kulkas, mengeluarkan sayuran dan sosis yang ada di dalamnya. Dengan cekatan, disiapkannya sarapan pagi.
"Pagi Mbok," sapa Lena ramah. Gadis 14 tahun itu sama cantiknya dengan Laisa. Namun dia lebih beruntung daripada Laisa walaupun mereka lahir dari rahim yang sama. Karena orang tua mereka lebih perhatian dan sayang kepada Lena daripada Laisa.
"Sarapan dulu Non," sapanya. Gadis itu duduk diam menikmati sarapannya. Diulurkannya piring makannya kepada Mbok Nah dengan sopan, "ini Mbok. Mama mana?"
"Nyonya di kamarnya, kelihatannya sedang kurang sehat. Tengoklah ke kamarnya," kata Mbok Nah.
Lena bergegas menaiki tangga menuju kamar orang tuanya.
"Ma, Lena berangkat ya," pamitnya.
"Angga juga, Ma," kata Angga menyusul.adiknya.
Laila membuka matanya, menerima uluran tangan kedua putranya dan mengangguk kepada mereka, "hati-hati ya," pesannya.
"Aku berangkat dulu, Ma," kata Tuan Sampurno kepada Laila, "yakin? tak apa-apa kutinggal?"
Laila menggeleng lemah, tersenyum dan berbisik, "jangan cemas. Aku cuma butuh istirahat."
Mbok Nah menutup pintu pagar. Menyeduh teh hangat dan menyiapkan sarapan untuk Laila. Perlahan, dibawanya semua ke kamar Laila dengan hati-hati.
"Sarapan dulu, Nyonya," sapanya. Diletakkannya semua di atas meja.
"Mbok," panggil Laila. Perempuan tua itu menoleh dan menghampirinya.
"Laisa sudah bangun?" tanya Laila.
"Belum, Nyonya," jawabnya lirih. Hatinya bertanya-tanya, tak biasanya Laila menanyakan Laisa.
"Ceritakan padaku tentang Laisa, Mbok. Aku berhak tahu kan?" tanyanya. Perempuan tua itu semakin terhenyak.
"Laisa anak baik, Nyonya ...." Akhirnya, Mbok Nah pun menceritakan segala sesuatu tentang Laisa. Sejak saat Laila memintanya untuk tidak membicarakan Laisa dan memintanya untuk merawat Laisa di kamar tanpa cahaya. Dan tanpa tahu alasannya. Juga tentang perkembangan Laisa sampai saat ini. Laila mendengarkannya tanpa menyela. Diam-diam diperhatikannya, perempuan itu berusaha menahan perasaannya.
"Sepertinya Laisa sakit, Nyonya. Badannya panas ...," kata Mbok Nah pelan. Perempuan itu tak berani menatap wajah Laila walaupun dia sangat ingin tahu reaksi Laila. Masih adakah perasaan keibuanmu untuk Laisa? bisik hatinya ngilu.
#Demak, 23042015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar