Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 23 April 2015

Suara hati Agni


Tema : Di mana ibuku?
Judul : Suara Hati Agni
Oleh : Titien SDF

Hari mulai gelap, seorang gadis tampak mondar-mandir di teras sebuah rumah. Sebentar-sebentar pandangannya tertuju di ujung jalan seolah-olah menunggu seseorang. Wajahnya tampak gelisah.

"Makanlah dulu Non, Mbok sudah siapkan makan malam di meja makan. Nanti keburu dingin lho," tegur Mbok Yah di balik pintu.

"Agni belum lapar Mbok. Sambil nunggu mama," sahut si gadis lesu.

"Tadi mama telpon, katanya langsung terbang ke Jakarta. Katanya Non Rara sakit," kata Mbok Yah lagi, "maaf ya Non, Mbok sampai lupa kasih tahu Non."

Agni masuk ke dalam rumah dan membanting pintu. Dadanya terasa sesak. Rara lagi, Rara lagi, kenapa sih mama selalu lebih peduli dengan Rara? Dan tak pernah ambil pusing dengannya, pikirnya.

Agni melangkah ke meja makan, melongok makan malam yang disiapkan Mbok Yah. Sepiring salad dan ayam bakar, lengkap dengan sambal terasi kesukaannya. Tapi entah mengapa nafsu makannya telah menguap entah kemana. Dilangkahkannya kaki menuju kamar tanpa menyentuh makan malamnya.

"Makan dulu Non," kata Mbok Yah mengingatkan, "Mbok suapin?" tawarnya tulus.

"Agni ndak lapar Mbok. Agni mau tidur saja," jawabnya lesu.

Mbok Yah menatap Agni penuh kasih. "Sabar ya Non," bisiknya lembut. Bukan kali ini saja gadis itu ditinggalkan sendirian di rumah, hanya bersamanya. Sejak kecil pun Agni sudah sering ditinggalkan jika Rara, sepupunya yang di Jakarta sakit.

Agni menatap nanar sebuah foto di atas meja belajarnya. Foto seorang balita diapit kedua orang tuanya. Foto masa kecilnya dahulu, semasa papa masih hidup. Papa yang sangat perhatian dan memanjakannya. Ah, andai papa masih ada ..., batinnya.

"Ah aku mau menyusul mama saja. Aku sudah tujuh belas tahun, masak gak bisa sih ke Jakarta sendirian. Mama aja bisa, aku juga harus bisa," gumamnya.

Kau kan tak tahu alamatnya Agni. Bagaimana kalau tersesat, terlantar, bla ... bla ... bla ..., sebuah pertanyaan muncul memenuhi benaknya.

"Di kamar mama pasti ada alamatnya," serunya girang.

Agni bergegas masuk ke dalam kamar mamanya yang memang tak terkunci. Dibukanya laci meja kerja mamanya dan membolak-balik berkas yang ada di sana. Tak sengaja, tangannya menyenggol kotak perhiasan mama sehingga isinya jatuh berserakan di lantai. Dengan gugup Agni membungkuk, mengumpulkan kembali perhiasan mama yang jatuh berserakan di lantai.

"Apa itu?" serunya tertahan saat melihat sebuah laci tersembunyi di bawah meja. Perlahan dibukanya dan melihat isinya. Ternyata isinya surat-surat dan diary mama.

Bimbang menjalari hati Agni, tapi ia sangat ingin tahu isinya. Barangkali ada jawaban untuknya tentang sikap mama padanya. Akhirnya, diberanikannya membuka lembar demi lembar diary mama dan membaca isinya.

"Maafkan mama anakku, mama terpaksa meninggalkanmu bersama nenek. Mama tak boleh membesarkanmu bersama keluarga baru mama. Tapi mama janji, mama akan sering-sering menengokmu. Mama sayang Rara."

Petir seakan menyambar kesadaran Agni begitu dia selesai membaca halaman pertama. Halaman itu bertanggal 25 Maret 1998, itu berarti tiga bulan setelah kelahirannya. Jadi, Rara anak kandung mama, pikirnya, lalu ... aku anak siapa? Dibukanya lembar berikutnya.

"Sebenarnya aku tak cinta pada Damian, suamiku. Tapi apa boleh buat. Demi melunasi hutang keluargaku, apapun harus kulakukan. Apalagi Damian tak pernah melarangku pergi mengunjungi anakku walau dia tak memperbolehkanku merawatnya di rumah ini. Sabar ya sayang, mama pasti sering menengokmu. Mama sayang Rara."

Hati Agni meleleh, awan hitam yang sedari tadi menggelayut di pelupuk mata pun pecah menghamburkan hujan. Bahunya terguncang-guncang menahan sesak yang memenuhi rongga dadanya.

"Non Agni, kenapa?" tanya Mbok Yah. Perempuan tua itu masuk ke dalam kamar karena mendengar suara tangisan di dalamnya.

"Katakan Mbok, aku ini anak siapa?" tanyanya sambil terisak, "Rara anak kandung mama kan Mbok? Bukan aku?"

"Non Agni ngomong apa sih?" kata Mbok Yah balas bertanya.

"Tolong ceritakan yang sebenarnya Mbok, diary mama ini sudah menjelaskannya," pinta Agni. Pembantu setia itu akhirnya buka suara.

"Baiklah Non. Sebenarnya mama Non sudah punya Non Rara saat menikah dengan papa Non. Waktu itu Non masih berusia tiga bulan ...," cerita Mbok Yah.

"Lalu mama kandungku?" tanya Agni.

"Papa Non sangat mencintai mama Non. Beliau tidak mau menikah dengan Sinta walaupun gadis malang itu sudah mengandung anaknya. Tapi beliau tak keberatan bertanggungjawab untuk merawat anaknya ...."

Mbok Yah menghela nafas, mengusap air mata Agni dan mendekapnya. Majikannya memang tak pernah berlaku kasar dan mencukupi semua kebutuhannya. Tapi dia bisa merasakan ada yang tak pernah dirasakan Agni. Tak ada dekapan hangat dan ciuman sayang, bicara pun seadanya. Tak jarang untuk mengambil rapot pun sering diwakilkan ke wali murid yang lain. Gadis malang, tentunya dia merindukan kasih sayang yang selama ini tak pernah dia dapatkan dari mamanya.

"Jadi ..., mama kandungku ..., sekarang di mana dia Mbok? Di mana ...?" tanya Agni terbata.

"Entahlah Non, Mbok tidak tahu," jawab Mbok Yah menggeleng.

"Non ...," katanya lagi, "maafkan mama. Cobalah pahami perasaannya ...."

"Tapi Mbok, aku juga tak minta dilahirkan ke dunia. Aku juga ingin diperhatikan dan disayang mama. Tak tahukah Mbok, aku sangat iri bila melihat teman-temanku menyambut ibu mereka saat pengambilan rapot dan wisuda. Aku sangat ingin Mbok, salahkah?" sahut Agni tersedu.

"Maafkan Mama, Agni."

Agni menoleh ke arah suara di belakangnya. Entah sejak kapan mama berdiri di depan kamar dengan seorang gadis cantik seumurannya.

"Mama ... pulang?" tanyanya terbata, "dan itu ... Rara?"

"Ya, Mama pulang Agni. Mama pikir, akan lebih baik bila Rara tinggal bersama kita. Jadi, Mama bisa merawatnya dan merawatmu juga ...," kata mama. Dijawilnya Rara dan berkata, "Rara, ini Agni, saudaramu yang sering mama ceritakan."

"Jadi ... Mama ... menganggapku saudaranya Rara?" tanya Agni penasaran.

"Tentu saja, Mama yang merawatmu sejak kamu berusia tiga bulan. Melihatmu, selalu mengingatkan Mama pada Rara, anak Mama yang jauh berada di Jakarta, karena kalian seumur. Maaf kalau Mama sering meninggalkanmu karena Rara lebih membutuhkan Mama. Rara menderita kelainan ginjal jadi Mama harus sering-sering menengok dan memastikan keadaannya."

"Jadi ... bukan karena Mama tak sayang Agni? Bukan karena Mama bukan mama kandung Agni?"

"Tentu bukan Agni. Mama sayang kalian berdua."

"Tapi Ma ..., Agni terlanjur tahu kalau Mama bukan mama kandung Agni. Tolong beritahukan Ma, di mana mama kandung Agni sekarang?"

Mama meletakkan ujung jarinya tepat di bibir Agni, mengisyaratkan agar dia tak menanyakan hal itu.

"Jangan menanyakan yang Mama tidak tahu. Beri kesempatan Mama untuk merawat kalian berdua denhan cinta dan kasih sayang yang sama. Oke ...?"

Agni merasakan kesejukan mengaliri dadanya, dibalasnya jentikan Mama di hidungnya dengan pelukan. Mama menarik Rara dan mereka bertiga pun berpelukan. Diam-diam Mbok Yah mengusap air matanya penuh haru.

Jangan pudarkan kebahagiaan ini ya Robb. Kalau boleh aku memohon, satukan pula kami dengan mama kandungku, aamiin, pinta Agni dalam hati.

#Demak, 03042015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar