Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 30 April 2015

Bab_6_DBT

#Bab_6_DBT
Pintu yang Setengah Terbuka
Oleh : Titien SDF

Matahari sudah sepenggalah, saat Mbok Nah selesai dari pekerjaannya. Laila masih di dalam kamar, begitu pun Laisa.

Kenapa Non Laisa tak kedengaran suaranya ya, pikir Mbok Nah sambil membuka pintu kamar Laisa. Gadis kecil itu terlihat masih tergolek di atas kasurnya.

"Non ... Laisa ..., bangun Non. Sudah siang," serunya mengguncang-ngguncang tubuh Laisa. Tapi, apa ini? Mengapa badannya terasa panas sekali. Oh tidak, ini pasti gara-gara kehujanan kemarin,' pikirnya.

"Na ... Na ...," gumam Laisa pelan. Gadis kecil itu terlihat menggigil. Mbok Nah segera mengambil termometer di kotak obat dan memasangnya di bawah ketiak Laisa.
"40°," gumamnya kuatir. Diambilnya segelas minuman dan sirup turun panas dan segera diminumkan ke mulut Laisa. Gadis itu hanya membuka mata sebentar, lalu memejamkannya lagi.

"Non, makan dulu. Dari tadi Non belum makan. Ayo Non, biar Mbok Nah suapin."

Perempuan itu masih saja berusaha membangunkan Laisa, tapi sia-sia saja. Mata yang terpejam itu tiba-tiba terbelalak. Kedua tangan dan kakinya kaku mengejang.

"Non Laisa! Jangan ... Non! Nyonya! Tolong ...!" teriak Mbok Nah panik.

Laila yang sedang berada di kamarnya segera turun. Tak biasanya Mbok Nah berteriak-teriak seperti ini, pikirnya bertanya-tanya.

"Ada apa Mbok?!" tanyanya tak kalah keras.

"Non Laisa kejang, Nyonya! Tolong ...!" teriak Mbok Nah semakin panik.

Apa? Laisa kejang? Tiba-tiba kecemasan memenuhi dada Laila. Setengah berlari dia menuju kamar Laisa. Disambarnya sebuah sendok di atas meja makan. Dengan sigap dibukanya mulut Laisa dan meletakkan ujung sendok di atas lidahnya.

"Kompres es batu,  Mbok! Cepat!" perintahnya. Tanpa pikir panjang, dipencetnya telpon, menelpon dokter Ardian, dokter keluarga mereka.

"Kenapa bisa begini, Mbok?" tanyanya, "apa Laisa pernah begini sebelumnya?"

Mbok Nah menggeleng sambil menangis, "Non Laisa tidak pernah begini, biasanya kalau meriang dikerokin juga sembuh. Saya takut Nyonya."

"Husss, jangan bilang begitu. Sebentar lagi dokter Ardian datang. Dia tak akan kenapa-napa," kata Laila berusaha menenangkan Mbok Nah dan dirinya sendiri.

Ting tong ... assalamu'alaikum. Terdengar suara bel pintu. Laila bergegas melangkahkan kaki dan  membukanya.

"Wa'alaikum salam, ayo cepat dokter, di sini," sambut Laila pada dokter Ardian. Ditariknya dokter Ardian menuju kamar Laisa.

"Gelap sekali," katanya, "bisakah dia dipindahkan ke tempat yang lebih terang?"

Mbok Nah dan Laila berpandangan. Satu-satunya kamar yang rapi dan tidak dipakai adalah kamar untuk tamu di dekat ruang tengah. Mereka pun mengangguk pelan.

"Mari saya bantu," tawar dokter Adrian sopan. Digendongnya tubuh lemah Laisa mengikuti langkah Laila sementara Mbok Nah mengikuti sambil membawakan tas perlengkapan dokternya.

Dokter Ardian membaringkan Laisa di atas pembaringan, kemudian dengan hati-hati menyuntikkan sesuatu ke tubuh Laisa. Tak berapa lama, serangan kejang itu berangsur hilang.

"Apa dia sering seperti ini?" tanya dokter Ardian.

"Tidak, dokter. Baru kali ini, saya takut sekali," jawab Mbok Nah cemas.

"Siapa namanya? Umurnya?" tanya dokter itu lagi.

"Laisa, umur 12 tahun dokter," jawab Mbok Nah.

"Ini siapanya Bu Laila? Saya kok gak pernah lihat?" tanyanya lagi.

Deg, pertanyaan itu seperti palu godam menghantam jantung Laila. Mbok Nah terdiam, begitu pun Laila. Tak lama kemudian, "momongan saya dokter," kata Mbok Nah pelan.

"Oooh ...," gumam dokter Adrian. Laila sedikit lega. Dokter Adrian pun menuliskan resep untuk Laisa, "biarkan dia banyak beristirahat. Kalau sewaktu-waktu keadaannya memburuk, segera hubungi saya atau bawa ke rumah sakit," pesannya.

"Bagaimana kalau Tuan pulang dan melihat Laisa di sini, Nyonya?" tanya Mbok Nah sepeninggal dokter Ardian, cemas.

"Biar aku yang bicara padanya Mbok. Tolong jaga dia ya. Kompres sampai panasnya turun ya," pesan Laila sebelum meninggalkan kamar, "Mbok, terima kasih ya."

"Nyonya tak perlu berterima kasih kepada saya, untuk apa?" tanya Mbok Nah heran.

"Untuk jawabanmu tadi," jawab Laila lirih.

Laila bergegas kembali naik ke kamarnya. Percakapan dengan dokter Adrian tadi sungguh membuat rasa tak nyaman dalam hatinya. Bukan salah dokter itu, bisik hatinya.

Ayolah, Laila. Bukankah telah kaulihat? Seperti apa dia? Berhentilah membencinya. Berhentilah mengutuknya. Dia darah dagingmu sendiri, Laila. Sembilan bulan dia dalam rahimmu. Tak pernah kausyukuri, tapi Tuhan menghendaki dia hidup. Ini bukan maunya, Laila. Berdamailah dengan fitrahmu, berdamailah dengan rasa keibuanmu, bisik suara hatinya.

Tapi ini juga bukan mauku, teriak sisi hatinya yang lain.

"Astahhfirullah, ampuni aku ya Allah," gumamnya pelan, "beri aku petunjuk. Apa yang harus kulakukan ya Allah?"

Laila bergegas mengambil wudhu, digelarnya sajadah, menunaikan sholat dhuha, menenangkan hatinya, memohon petunjuk dari Tuhannya. Ditekurinya sujudnya yang dalam, serasa ada kesejukan yang mengaliri raganya, terus mengalir ke dalam jiwanya hingga terasa tenang. Pintu itu sudah setengah terbuka. Pintu kesadarannya akan kehadiran Laisa yang membutuhkan dirinya, sentuhannya, dan perhuatiannya sebagai seorang ibu.

Sementara itu Mbok Nah masih berjaga di samping Laisa. Tangannya masih sibuk mengompres dahinya walau panasnya berangsur turun. Sebentar-sebentar terdengar suaranya mengigau memanggil namanya.

"Na ... Na ...."

Mbok Nah menghela napas, mengembuskan sedikit beban yang menghimpit jiwanya. Setidaknya Laila masih punya rasa, pikirnya. Apakah itu hanya bagian dari rasa kemanusiaannya atau bagian dari rasa keibuannya? Bagi Mbok Nah tak terlalu penting. Bukankah dia belum mau mengakui Laisa sebagai putrinya? Itu terlihat pada roman mukanya tadi. Tapi ..., mengapa ada cemas yang tak dapat disembunyikannya dari wajahnya? Kecemasan seperti apakah? Ah, aku tak harus berprasangka seperti ini, pikir Mbok Nah kemudian.

"Mbok, aku ke apotik sebentar. Mau nebus obat," kata Laila membuyarkan lamunan Mbok Nah. Perempuan tua itu hanya mengangguk.

"Na ... Na ...," Laisa masih terus mengigau.

"Mbok di sini, Non," jawabnya mencoba menenangkan. Diusapnya kepala gadis kecil itu dengan lembut, digenggamnya tangannya.

Ting tong ... assalamu'alaikum. Bel pintu kembali berbunyi. Mbok Nah melepaskan genggamannya pada Laisa dan bergegas membukanya.

"Wa'alaikum salam. Non Renata, Non Laisa sakit, Non," sambutnya saat melihat Renata di depan pintu.

"Loh, kemarin baik-baik saja. Di mana dia sekarang? Aku boleh masuk kan, Mbok?" tanya Renata. Mbok Nah menggamit tangannya, menariknya ke tempat Laisa.

"Laisa, ini aku, Renata ...," bisiknya di telinga Laisa. Tak ada reaksi, gadis itu tetap terdiam, terpejam, tergolek tak berdaya.

#Demak, 30042015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar