Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 30 April 2015

Bab 4 DBT

#Bab_4_DBT
Kejadian tak Terduga
Oleh : Titien SDF

Sudah hampir satu minggu Tuan dan Nyonya Sampurno keluar kota. Selama itu pula Renata rajin datang untuk mengajari Laisa membaca dan menemaninya bermain. Dia juga membawakan buku gambar dan crayon warna-warni untuk Laisa. Laisa memang agak sulit diajak belajar membaca. Dia lebih suka mencorat-coret buku dengan crayonnya.

Ini masih waktu yang sama. Dengan keasyikan dan gairah yang luar biasa, mereka melakukannya lagi. Renata dan Laisa. Yang satu menjadi guru dan satunya adalah muridnya. Hebatnya, hampir tak ada pertengkaran di antara dua gadis sebaya itu. Pembelajaran yang mereka mainkan mengundang banyak harapan dalam hati Mbok Nah. Betapapun, dia belum pernah melihat Laisa semanis ini kepada orang lain. Dia selalu saja berontak bila didekati Den Angga dan Non Lena. Dan tak acuh pada mama papanya. Tapi dengan Renata tidak. Mungkin karena Renata juga bersikap manis dan apa adanya padanya, pikir perempuan sederhana itu.

"Pegang pensilnya begini, Laisa. Terus gerakkan seperti ini," kata Renata memperagakan cara menulis  sambil tangannya membimbing Laisa.

"Sa, mau ... tu," jawab Laisa menunjuk crayon warna-warni.

Apa boleh buat. Renata mengambil crayon dan menggambar bunga cantik di atas kertas gambar, lalu menyodorkannya pada Laisa. Gadis itu pun menggoreskan crayon dengan gembira.

Dua pasang mata menatap dalam dua gadis kecil yang asyik bermain crayon, tertawa-tawa. Tuan dan Nyonya Sampurno. Mereka tertegun di depan pintu, lalu perlahan mendekati Laisa dan Renata.

"Lena ...," panggil Nyonya Sampurno. Renata pun menoleh kaget ke arah suara yang asing baginya.

"Dia bukan Lena," sahut Tuan Sampurno mengernyitkan dahi.

"Mbok Nah! Siapa dua gadis kecil ini Mbok?" tanya Nyonya Sampurno. Dilihatnya Renata dan Laisa berganti-ganti. Laisa menggeser duduknya dengan takut.

Mbok Nah terperangah. Hari ini memang hari kepulangan Tuan dan Nyonya Sampurno. Dia terlupa memberitahu Renata akan hal ini. Dengan takut-takut, dihampirinya mereka berdua.

"Maaf Tuan, ini Non Laisa dan Non Renata, anak tetangga sebelah," jawabnya lirih.

Tuan dan Nyonya Sampurno saling berpandangan. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau Laisa, anak yang selama ini dikurungnya dalam kamar gelap sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik.

"Maaf Om, Tante, saya main tanpa ijin Om dan Tante dulu," kata Renata, "saya mohon pamit dulu ya."

"Ta ... ja ... ngan ... per ... gi ... ," ucap Laisa. Tangannya menarik tangan Renata agar kembali.

Nyonya Sampurno tersenyum kecut, melepas genggaman Laisa pada Renata dan berkata, "pulanglah, kami mau istirahat."

Renata melangkah keluar diiringi tangisan Laisa yang masih ingin ditemani. Mbok Nah mendekapnya erat dan menuntunnya kembali ke kamarnya.

"Bukankah sudah kubilang kalau tak boleh ada yang tahu tentang Laisa? Kenapa kau malah membiarkan anak itu bermain bersamanya? Kenapa Mbok?"

"Tapi Tuan, Non Laisa tak punya teman. Kasihan, dia pasti ingin punya teman," kata Mbok Nah memelas.

"Kau sudah pintar membantah ya ...," kata Tuan Sampurno geram.

Mbok Nah terdiam. Laisa masih terisak dalam dekapannya. Berjuta rasa kecewa memenuhi rongga dadanya. Rasa yang selama ini selalu dipendamnya penuh takut. Tiba-tiba dia melonjak, melepaskan dekapan Mbok Nah dengan sekali sentak.

"Hua ... hua ... Sa ...Ta ... Na ... hua ...," teriak Laisa sambil berlari, melewati Tuan dan Nyonya Sampurno yang berdiri di depan pintu. Tanpa dikomando, mereka pun berlari mengejarnya.

Blaaarrr ....Tiba-tiba suara guntur membelah angkasa. Langit pun seketika menumpahkan air hujan sedemikian derasnya. Dinginnya mengguyur tubuh kecil Laisa yang terus berteriak dalam tangis.

"Biarkan dia," kata Tuan Sampurno.

Mbok Nah tak menghiraukan ucapan majikkannya. Tubuh tuanya menangkap Laisa yang terduduk dalam kuyup di tengah jalan.

"Tak boleh begini Non. Nanti Non sakit. Kita pulang ya ...," katanya lembut. Tak urung cairan bening keluar dari dua bola matanya. Bagaimana mungkin, ada orang yang semena-mena terhadap anak kandungnya sendiri.

Laisa masih bergeming, menangis dan meronta dampai lelah menidurkannya. Lalu perempuan tua itu membopongnya dalam hujan. Membawanya pulang dan membaringkannya di kamarnya.

Sementara itu, di dalam kamar utama ....

"Sudah kubilang, jangan terlalu keras pada Laisa."

"Kau sendiri tak pernah mengakui dia anakmu kan, Laila?"

"Tapi aku tak membahayakannya."

"Lalu mengapa dulu kau berusaha menggugurkannya?"

Laila terdiam. Terbayang kembali peristiwa 13 tahun silam saat perampok menyatroni rumah mereka. Saat itu Mbok Nah sedang pulang kampung. Anak-anak tidur di kamarnya. Dan dia bersama suaminya sedang memadu cinta.

Malam itu sebelumnya terasa begitu indah. Mereka melambung tinggi di puncak asrama. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba sekawanan perampok telah masuk ke dalam kamar mereka. Mereka tak hanya merampas harta benda yang ada, tapi juga merenggut kehormatannya bergantian. Dan suaminya tak bisa berbuat apa-apa dengan pisau yang menempel di lehernya.

"Andai kaubiarkan aku mati saja, waktu itu," gumam Laila lirih.

"Bagaimana mungkin? Aku dan anak-anak membutuhkanmu," kata suaminya.

"Ya, dan aku berusaha bertahan hidup dengan menanggung malu. Apalagi setelah aku mengandungnya. Kita sama-sama tak rela dia ada."

Sampurno menghampiri istrinya. Perempuan itu terlihat amat terluka. Sama seperti dirinya, mereka sama-sama menganggap Laisa bukan darah dagingnya. Karenanya, mereka pun berusaha menggugurkannya dengan berbagai cara. Namun Tuhan berkehendak lain. Laisa tetap saja lahir walau tak sempurna. Kelahirannya tetap saja tak menumbuhkan cinta. Tak setetes pun air susunya diberikan untuk Laila. Namun Laisa tetap bertumbuh walau seadanya. Dan untuk alasan kemanusiaan maka dia membiarkan Mbok Nah merawatnya. Agar mereka tak dicap sebagai pembunuh. Naif? Ya. Bukankah memang demikian watak manusia?

Laila mengusap air matanya. Bayangan Laisa melintas di kepala. Gadis kecil itu terlihat begitu cantik, wajahnya jelas-jelas tak mewarisi wajah-wajah buas yang dibencinya.  Tapi hatinya terlanjur terluka. Luka yang membekas dan mungkin tak akan pernah hilang.

#Demak, 08042015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar