ANTARA KAU, AKU DAN USTADZAH
Seperti sebuah titik di tengah-tengah lingkaran, kau terlihat begitu asing. Berbeda. Entah siapa yang salah sehingga kau seperti ini.
"Waktu berjalan begitu cepat," katamu, "kita harus melakukan sesuatu," katamu waktu itu.
"Apa?" tanyaku.
"Apa saja. Jangan sampai kita ketinggalan kereta. Dunia ini kejam, dia bisa membinasakan siapa saja. Harus kautundukkan. Letakkan dia di atas telapak tanganmu, jangan di hatimu," katamu memintaku berpikir. Aku yang baru 13 tahun tak habis mengerti.
Dan sejak saat itu engkau berubah. Jarang kudengar suara tawamu yang renyah seperti dulu. Sekeras apapun usahaku memancing gelakmu, hanya senyum yang kudapat. Senyum yang kaupaksakan, seolah kau hanya ingin menjaga perasaanku. Dan aku merasa semakin konyol di depanmu saat kau bilang, "banyak tertawa mematikan hati."
Malam itu malam ulang tahunmu yang ke-17. Orang bilang sweet seventeen. Tak ada kue ulang tahun, tak ada hadiah, tak ada ciuman, bahkan tak ada ucapan selamat. Kutunggu reaksimu sekian lama. Namun sia-sia, tak ada keluhan, tak ada kesedihan, semua berjalan seperti biasa. Sungguh aku tak tahu, terbuat apakah hatimu?
"Aku sudah mendapatkan semua," katamu, "jadi, aku tak banyak berharap dengan semua itu. Sudah cukup kok."
Kata-katamu memang benar. Juga soal ayat yang kaubacakan padaku, "wa intaudhu ni'matillahi laa tuhshuuhaa. Dan apabila engkau hendak menghitung nikmat Allah, niscaya engkau tak akan bisa menghitungnya." Kau terlihat sudah seperti seorang ustadz di mataku. Ustadz muda.
Kaubilang, semua yang kita alami adalah nikmat, juga ujian. Dan kulihat, engkau benar-benar tegak seperti sebatang pohon besar yang tinggi menjulang. Sepertinya akarmu benar-benar menghunjam ke dalam tanah. Tak tergoyahkan. Nyaris sempurna. Tak heran banyak gadis yang mengharapkanmu.
Kau hanya tersenyum saat kutanya, "apa kau mencintaiku?"
Dan kau menggeleng saat kutawarkan untuk jadian.
"Agama kita melarang pacaran sebelum nikah. Itu mendekati zina," katamu membuatku putus asa.
Kupikir itu hanya alasan karena kau tak mencintaiku. Lalu kutanyakan padamu perihal gadis yang kaucintai. Lagi-lagi hanya senyuman yang kudapat. Kau tetap bergeming. Membuatku berharap.
Lalu kau pergi melanjutkan kuliahmu. Membayar biayanya dengan bekerja paruh waktu. Praktis hari-hari berlalu tanpa sosokmu. Entah mengapa tak jua bisa kuhapus bayangmu.
Saat kembali, penampilanmu masih sama. Nyaris tak ada yang berubah, hanya kumismu yang bertambah lebat, dengan bulu-bulu halus di dagu. Kau semakin tampak matang.
"Ke mana jilbabmu? Kau sudah 17 tahun sekarang, agama kita mewajibkan semua muslimah untuk menutup aurat. Berjilbablah," katamu.
Ceramah lagi, rutukku dalam hati. Kautahu? Aku cukup besar untuk memilih jalanku. Dan aku tersinggung saat kau tak lagi mau menerima jabat tanganku. Terlalu. Bukankah kaubilang aku sudah seperti adikmu? Dan lima tahun berpisah sudah menggunungkan rinduku.
Lalu ... lagi-lagi kau pergi. Tanpa kabar dan tanpa kepastian.
###
Waktu terus berjalan seperti katamu. Namun bagiku terasa begitu lambat. Menumpuk kebosanan tinggi-tinggi. Dan aku menyiapkan sebuah telaga yang penuh berisi air mata kerinduan, menanti dalam sepi.
Aku menghitung hari yang terus berganti, bulan dan tahun. Tanpa lelah. Karena aku tak ingin berhenti berharap.
Lihatlah aku sekarang, sudah bukan Sari yang dulu. Yang selalu merengek minta kaubacakan kisah-kisah Rasulullah saw agar bisa menikmati wajahmu. Aku sudah lancar membaca Alqur'an dan khatam berkali-kali. Beberapa juz sudah kuhapal di luar kepala.
Aku juga banyak belajar memperbaiki diri. Dari buku 'Salon Kepribadian'nya Asma Nadia, aku banyak belajar. Melembutkan suara, memperhalus lisan, membuang semua kebiasaan burukku. Aurat pun terjaga dengan pakaian taqwa.
###
"Bertaqwa bukan hanya bagian luarnya, Sari," begitu kata Mbak Diah, ustadzahku.
"Bertaqwa itu harus meliputi semuanya. Sisi luar dan sisi dalam. Jasadmu dan juga ruhmu. Ucapkan dengan lisan, benarkan dengan hati dan tunjukkan dengan perbuatan. Itu baru iman. Dan taqwa itu adalah berhati-hatinya kita dalam menjaga iman. Karena iman itu bisa naik dan bisa turun kadarnya," lanjutnya lagi.
Aku tercenung, memikirkan ucapannya. Hari ke hari membuatku semakin ingin mengenalnya. Dan hatiku terpesona.
Dia seorang perempuan biasa. Lulusan sarjana yang belajar wiraswasta dengan berjualan busana muslimah dan buku-buku islami. Masih lajang di usianya yang sudah lebih dari 25 tahun. Piatu dengan dua orang adik. Tapi nyaris tanpa keluhan. Walau sebagian besar pelanggannya adalah mahasiswi, yang sering mengambil dulu barang dagangan dan baru membayar bila sudah terima kiriman uang dari orang tua. Itu pun masih nyicil, seperti aku.
"Rejeki sudah ada yang ngatur, Sari. Takkan ada yang nyerobot. Percaya saja, Dia tak pernah lupa," katanya, "kalaupun tak segera sampai ke tangan kita, itu karena kita mengambil jalan yang berlawanan arah dengan arah datangnya."
Tuh, berteka-teki lagi kan, seperti kamu. Entah mengapa, setiap kata-katanya selalu mengingatkan padamu. Dia seperti dirimu yang berwujud perempuan.
Saat kuceritakan tentangmu dan perasaanku, dia membenarkanmu.
"Bukankah menyatakan cinta adalah wujud syukur juga?" tanyaku padanya.
"Benar, jika jatuhnya pada tempat yang dibenarkan agama. Artinya, hanya boleh dinyatakan kepada pasangan syah kita. Bukan pada yang belum syah secara agama. Belum halal," jawabnya serius. Aku tertawa.
"Kenapa Mbak Diah belum menikah?" tanyaku memancing. Dia tersipu.
"Itu skenario Allah. Doakan saja Mbak segera bertemu jodoh," katanya, tak ada nada tersinggung.
Hari-hari berikutnya semakin mendekatkanku dengannya. Dan aku ikut bahagia ketika mendengar seorang ikhwan telah datang mengkhitbahnya. Hatiku ikut berbunga-bunga menanti hari bahagianya. Kubayangkan, andai itu diriku dan dirimu, amboi senangnya.
###
Mas, aku masih menaruh besar harapan padamu. Menyiapkan telaga berisi air mata kerinduan. Agar engkau bisa menyelaminya dan menemukan mutiara cintaku.
Membayangkan kau menggendongku kala sakit, menghibur dengan kisah-kisahmu. Semua masih kuanyam dengan setia.
Lalu tiba-tiba kau datang dengan penuh senyuman, aku sungguh girang.
"Sari, aku sudah menemukannya," katamu sambil tersenyum
"Menemukan apa Mas?" tanyaku penasaran.
"Gadis yang menjadi jodohku. Dia begitu dekat," jawabnya. Aku sungguh merasa kalau itu diriku.
Semua terasa begitu berbeda, saat kauulurkan sebuah undangan. Badanku terasa lemas. Saat kubuka, tertulis namamu dan nama Mbak Diah di sana. Sungguh, aku tak tahu, harus sedih ataukah bahagia.
#Demak, 26042015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar