Panggil Aku Tyo
Oleh : Titien SDF
"Kau sudah siap Lis?" tanya mama padaku.
"Apa Lilis punya pilihan Ma?" jawabku lirih.
"Mama hanya ingin memastikan pilihanmu. Karena akan ada banyak hal yang harus berubah daripada sebelumnya."
Kutatap wajah teduh mama, mencari jawab adakah mama lebih suka aku yang akan datang atau yang sebelumnya. Aku menggigit bibir, resah, gelisah.
"Apapun yang terjadi, kau tetap anak Mama, Lis. Sama seperti empat kakakmu."
Mendung tebal menggelayut di ufuk sana. Persis seperti hatiku, gelap. Harusnya aku bahagia, Mama mendukungku penuh untuk keputusan ini. Tapi aku masih saja gamang.
"Tunggu apalagi? Kita berangkat sekarang," kata Papa. Rona mukanya begitu sumringah berseri-seri. Tentu saja, harapannya untuk punya anak lelaki sudah di depan mata. Empat kakakku terlahir sebagai perempuan. Begitu juga aku. Hanya saja, mereka betul-betul feminin, tapi aku merasa sangat tidak feminin. Atau ini akibat nama yang diberikan papa padaku? Sulistyo Darmawan. Sulistyo, karena dia berharap aku terlahir sebagai laki-laki. Sulistyo Darmawan karena nama papa 'Darmawan.' Namun, tetap saja mereka memanggilku 'Lilis' karena aku terlahir sebagai perempuan.
Kuikuti papa masuk ke dalam mobil yang akan membawaku ke RSDK. Mama ikut mendampingi juga. Pikirku menerawang jauh sepanjang perjalanan.
"Perempuan tak berguna. Tak bisa melahirkan anak lelaki."
Begitu kata papa saat mama melahirkanku dulu, menurut cerita mama. Begitu pun saat aku kecil, papa sering mengatakannya bila ada yang tak berkenan di hatinya. Tak jarang papa mengayunkan tangannya, memukul mama dan mama hanya diam.
"Stop Pa, bukan begitu caranya memperlakukan perempuan," kataku waktu itu, saat melihat papa memukuli mama.
"Dasar perempuan, cerewet," jawab papa makin marah. Kutangkap tangannya yang mulai terayun lagi.
"Papa marah kan, karena Lilis perempuan. Papa ingin Lilis jadi lelaki kan? Ayo, ajari Lilis jadi lelaki. Bukan dengan cara memukuli mama seperti ini," tantangku padanya tiga tahun lalu. Saat itu aku duduk di bangku SMA, saat aku merasa ada yang berbeda padaku dibanding teman-teman karibku lainnya.
"Woi! Jangan memandangiku seperti itu. Pandanganmu menakutkan," tegur Dina, teman sebangkuku. Lekuk tubuhnya yang indah selalu meninggalkan desiran halus di hati. Membuat mataku tak lepas memandanginya. Sungguh berbeda dengan tubuhku sendiri yang cenderung maskulin. Aku pun lebih suka memakai celana dan hem ketimbang memakai gaun.
"Din, gimana rasanya menstruasi?" tanyaku padanya suatu hari.
"Lho, memangnya kamu belum pernah menstruasi to Lis?" jawabnya balik bertanya. Kugelengkan kepala, kalau pernah mengalaminya aku takkan bertanya.
"Gimana ya ... susah jelasinnya. Tanya saja pada kakakmu," jawabnya cuek.
"Aku malu," dengusku, "lagipula mereka semua sudah menikah dan hidup dengan keluarganya di luar kota."
"Periksa saja. Jangan-jangan kau memang bukan perempuan," katanya di saat yang lain.
"Periksa ke mana?" tanyaku bingung. Dibawanya aku menemui dokter Boyke, pamannya. Pemeriksaan demi pemeriksaan harus kulalui. Sungguh suatu proses yang panjang. Beruntung, Dina selalu menemaniku, walau dia hanya menunggu di luar kamar periksa Itu membuat rasa aneh dalam hatiku bertumbuh subur. Apakah ini cinta? Jangan-jangan, aku memang seharusnya terlahir sebagai laki-laki.
"Menurut hasil pemeriksaan yang telah kita lakukan pada anda, organ dalam anda laki-laki. Tidak ada rahim dan indung telur. Tapi ada kelenjar prostat. Hormon androgen anda sama kuatnya dengan hormon esterogen sehingga alat kelamin tidak terbentuk sempurna."
Begitu kata dokter Boyke setelah enam bulan kulalui dengan serangkaian pemeriksaan yang melelahkan. Setelahnya, aku baru berani menceritakannya pada mama dan papa.
"Kalau begitu, tuntaskan saja. Berapapun biayanya," kata papa. Terlihat jelas binar-binar harapan di kedua bola matanya. Harapan untuk punya anak lelaki. Kulirik wajah mama. Perempuan itu hanya diam mempermainkan ujung bajunya.
"Bicaralah Ma? Lilis butuh dukungan dari Mama."
"Seperti yang Papa bilang. Kalau memang hasil pemeriksaan menjelaskanmu sebagai laki-laki, tuntaskan saja."
Hari-hari selanjutnya kulewati dengan serangkaian pengobatan. Dokter bilang, hormon androgenku perlu ditambah agar ciri-ciri fisik sebagai laki-laki semakin tampak. Namun, aku belum berani menunjukkan diri sebagai laki-laki.
Lepas SMA, aku dan Dina diterima pada Universitas yang sama dan jurusan yang sama. Fakultas Hukum sebuah universitas swasta di kota Semarang. Masalahnya, semua berkasku masih mencantumkan jenis kelamin sebagai perempuan. Begitu pun, sanak saudara dan teman-teman mengenalku sebagai perempuan.
"Ayo turun, kita sudah sampai," kata papa membuyarkan lamunan.
"Ayo Lis, semua demi masa depanmu," sahut mama menarikku keluar dari dalam mobil.
"Woi! Kenapa suntuk begitu? Ini sudah kautunggu-tunggu bukan?" sambut Dina menyambutku. Rupanya dia lebih dulu sampai.
"Aku ragu-ragu Din," jawabku lirih.
"Eit, tidak boleh begitu. Jangan-jangan kamu mau bertahan dengan status perempuan biar bisa peluk cium sesuka hati. Biar dianggap muhrim, biar bla ... bla ... bla ...," serang Dina memerahkan telinga.
"Bukan begitu, aku hanya takut dibilang cari sensasi, nyleneh, melawan kodrat dan sebagainya," jawabku gusar.
"Ya udah, lakukan saja. Toh semua hasil pemeriksaanmu mengarah ke laki-laki. Gak usah pedulikan omongan-omongan orang. Lagipula, aku sudah gak sabar ingin melihatmu sebagai laki-laki," jawab Dina mencubit pinggangku. Sekilas kulihat rona merah di pipinya. Dan dadaku berdesir, mungkinkah dia merasakan hal yang sama? Yang jelas, ucapannya menguatkan niatku untuk menjalani operasi ini. Operasi ganti kelamin.
"Kalau begitu, jangan panggil Lilis lagi dong. Berasa perempuan," kataku setengah menggoda, "panggil aku Tyo."
"Ya,Tyo boleh juga," celetuk mama dan papa di belakangku.
"Gimana Sulistyo? Sudah siap?"
Kami menoleh ke sumber suara, ternyata dokter Boyke sudah tiba. Dia memberi isyarat padaku untuk mengikutinya.
"Sudah puasa kan?" tanyanya yang kujawab dengan anggukan kepala.
"Tenang, tak akan lama kok," katanya lagi menenangkanku.
Aku melangkah mantap menuju ruang operasi. Bismillah, semoga ini menjadi awal yang baik untuk kehidupan baruku. Aamiin.
#Demak, 10042015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar