Tetangga Baru
Oleh : Titien SDF
Pagi ini semua berjalan seperti biasa. Tuan dan Nyonya Sampurno sudah berangkat sejak subuh tadi. Mereka bilang harus ngejar pesawat penerbangan pertama menuju Jakarta. Den Angga dan Non Lena pun sudah berangkat sekolah.
Mbok Nah mematikan kompor. Masakan untuk sehari ini sudah selesai disiapkannya. Rumah sudah bersih, cucian juga sudah selesai. Mbok Nah membuka kamar Laisa. Gadis kecil itu masih tertidur lelap rupanya.
"Non Laisa... bangun Non, sudah siang," bisik Mbok Nah mengguncang lembut badan Laisa.
Laisa membuka mata dengan enggan. Namun, saat matanya menangkap Mbok Nah, serta merta dipeluknya dengan senyum mengembang.
"Na ..., Na ...," sapanya riang, "Sa tak om ... pol."
"Anak pinter," kata Mbok Nah memberi isyarat dengan jempolnya, "mandi dulu yuk."
Mbok Nah membimbing Laisa ke kamar mandi dan dengan sabar mengajarinya mandi. Tak berapa lama, Laisa sudah terlihat bersih dan wangi.
"Na ..., main ... Sa ... main," kata Laisa terbata.
"Non Laisa mau main?" tanya Mbok Nah. Laisa mengangguk.
"Non Laisa mau main apa?" tanya Mbok Nah lembut. Diambilnya semua mainan Laisa, dibawanya ke ruang tengah. Tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu.
"Ting tong ... ting tong ... assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikum salam," sahut Mbok Nah, digerakkannya tangan memberi isyarat,
"sebentar, Non Laisa diam di sini dulu."
"Cari siapa ya?" tanya Mbok Nah pada seorang gadis kecil di depan pintu. Gadis yang cantik dengan sebuah bungkusan di tangannya, umurnya mungkin sepantaran dengan Laisa.
"Saya tetangga baru, ini ada sedikit kue perkenalan dari kami," kata gadis itu sambil menyodorkan sebuah bungkusan.
"Rumahnya sebelah mana?" tanya Mbok Nah ramah.
"Itu ..., dua rumah dari sini, yang bercat hijau. Rumah Pak Broto," jelasnya.
"Na ... Na ..., pa...?" tanya Laisa terbata. Rupanya dia bosan menunggu Mbok Nah kembali dan tertatih mencarinya.
"Maaf ya Non, majikan saya sedang tidak di rumah. Terima kasih kuenya, nanti saya sampaikan," kata Mbok Nah pada gadis itu. Lembut tapi tegas. Cepat ditutupnya pintu sebelum gadis itu menjawab. Kemudian, dibimbingnya Laisa untuk kembali masuk ke ruang tengah dan menemaninya bermain.
"Non Laisa, dengarkan Mbok Nah ya. Kalau Mbok bilang diam di tempat, jangan ke mana-mana ...," katanya mencoba memberi pengertian.
"Tu ... a ... pa ...?" tanya Laisa menunjuk-nunjuk ke arah ruang tamu.
"Itu ... tamu ... tetangga ...," jelas Mbok Nah mengisyaratkan dengan tangannya. Entahlah, mudah-mudahan Laisa bisa memahami maksudnya.
"Tu ... tu ... Na ...," seru Laisa berkali-kali. Tangannya menunjuk-nunjuk jendela yang terbuka lebar. Seraut wajah muncul di sana mengagetkan Mbok Nah. Wajah gadis kecil si tetangga baru. Rupanya dia belum beranjak pulang.
"Astaghfirullah ..., kaget saya. Non belum pulang?" tanya Mbok Nah sesaat setelah mengatur napasnya.
"Kan belum jadi kenalan ...," sahut si gadis kecentilan.
"Namaku Renata," katanya lagi mengulurkan tangan dari balik jendela.
"Oh ... saya Mbok Nah, pemilik rumah ini namanya Pak Sampurno dan Bu Lilia," katanya memperkenalkan.
"Itu? Siapa?" tanya Renata menunjuk Laisa.
"La ... i ... sa ...," jawab Laisa menunjuk dadanya.
"Le ... na ... ta ...," eja Laisa menunjuk Renata. Gadis itu mengangguk.
"Main ... main ...," seru Laisa mengajak Renata bermain. Gadis itu menatap Mbok Nah meminta ijin.
"Main ... main ...," seru Laisa sambil berdiri. Dihampirinya Renata dan menarik-narik tangannya. Mbok Nah merasa serba salah.
Tak apalah Nah, Tuan dan Nyonya sedang keluar kota untuk beberapa hari. Den Angga dan Non Lena juga pulangnya masih lama. Berikan waktu barang satu dua jam untuk Laisa bermain dengan orang lain. Sepertinya Renata anak baik, bisik hatinya.
"Non Renata tidak sekolah?" tanyanya.
"Mama dan Papa baru mengurusnya. Mungkin baru minggu depan," jawab Renata.
"Aku boleh masuk?" tanyanya sopan.
Mbok Nah menatap Laisa dan Renata bergantian. Tak ada pilihan, akhirnya diijinkannya Renata masuk menemani Laisa. Gadis kecil itu terus menatap Laisa dari ujung kepala sampai ujung kaki. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Laisa tampak senang sekali ditemani. Diperlihatkannya semua mainan dan bonekanya pada Renata. Mereka pun terlihat asyik bercanda dan tertawa.
Waktu berjalan begitu cepat. Mbok Nah melihat jam dinding, sudah lebih dari jam sebelas. Sebentar lagi Den Angga dan Non Lena pulang. Akan jadi masalah kalau mereka melihat Laisa dan Renata bermain bersama. Aku harus mencari cara agar Renata mau pulang, pikirnya.
"Maaf ya ..., Non Renata. Sudah siang, Non Laisa harus bobok siang, biar ndak kecapekan. Kalau kecapekan dia mudah sakit," usirnya halus.
"Oh iya, Renata lupa waktu. Mama mesti nyari-nyari nih. Ya udah, Renata pulang dulu ya Mbok, ... Laisa ...," pamitnya, "assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam," jawab Mbok Nah membukakan pintu.
"Besok ... main ... lagi ...," seru Laisa melambaikan tangan. Renata balas melambai sambil tersenyum. Dada Mbok Nah dipenuhi rasa haru melihatnya. Laisa ... Laisa ... engkau juga berhak bahagia ... engkau juga berhak bahagia, bisik hatinya. Siang itu terlukis sebentuk senyum dalam tidur Laisa. Mimpi indahlah Laisa, mimpi indahlah.
#Demak, 25032015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar