Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Selasa, 26 Mei 2015

Hafalan surat Adinda

HAFALAN SURAT ADINDA

Matahari mulai terbenam, hari mulai petang, sayup-sayup suara adzan maghrib berkumandang.

Allahu akbar allahu akbar, allahu akbar allahu akbar, asyhadu an laa illaha illallah ....

Muthi bergegas mengambil air wudhu, disambarnya mukena lalu dirapikannya jilbabnya. Gadis kecil itu pun segera melangkahkan kaki ke masjid di ujung gang.

"Mbak Muthi! Adinda ikut!" rengek seorang bocah sambil menarik baju Muthi. Muthi menoleh.

"Ish, anak kecil sholat di rumah saja. Sama Bunda!" hardiknya. Dan si kecil pun menangis sambil berlari kepada bundanya.

"Ajak adikmu, Mut. Biar dia belajar sholat jama'ah," seru Bunda.

"Tapi Bunda, Dinda cuma bikin malu aku. Dinda berjama'ah sama Bunda saja ah. Pokoknya Muthi gak mau ajak Dinda!" jawab Muthi gusar, meninggalkan tangisan Adinda dan guratan tanda tanya besar di hati Bunda.

Hemmm, ada apa ya? pikir Bunda. Digamitnya tangan Adinda, menuntunnya berwudhu dan memakaikan mukena.

"Dinda, sholat jama'ah sama Bunda ya. Tirukan Bunda dan jangan berisik," pesan Bunda sebelum mulai mengimami sholat. Adinda mengangguk.

Bunda pun mulai mengimami sholat. Bacaannya cukup terdengar oleh Adinda. Adinda pun mengikutinya dengan tenang. Hening, tak ada suara berisik sampai sholat selesai.

"Bunda, Adinda ingin ikut sholat jama'ah di masjid. Kata Bu guru, sholat jama'ah pahalanya lebih banyak dua puluh tujuh derajat," rengek Adinda.

Bunda tersenyum dan berkata, "baiklah. Nanti, kita sholat Isya' di masjid." Adinda mengangguk senang.

Seperti biasa, selesai sholat Bunda mengajar Adinda mengaji, menghafalkan surat-surat pendek. Kali ini diajarkannya surat Al Fiil. Diceritakannya kisah yang tergambar di dalamnya agar mempermudah hafalan putrinya. Bocah tujuh tahun itu mendengarkannya dengan takjub. Dia berhasil menghafalnya tepat sebelum adzan Isya' berkumandang.

Allahu akbar allahu akbar, allahu akbar allahu akbar, asyhadu an laa illaha illallahu ....

Bunda menyiapkan mukena dan sajadah lalu menggamit tangan Adinda. Dituntunnya menuju masjid. Sepanjang jalan Adinda melambai-lambaikan tangan pada teman-teman yang ditemuinya, memberi isyarat untuk mengikutinya. Bunda hanya tersenyum ketika melihat satu per satu mengikuti mereka. Alhamdulillah, Adinda suka mengajak teman-temannya untuk kebaikan, pikirnya. Hati Bunda dipenuhi rasa syukur.

Bunda mengambil tempat di deretan jama'ah wanita. Diambilnya tempat agak ke belakang, agar anak-anak tak mengganggu jama'ah di depannya. Bunda mengatur shoff mereka agar tak berebut.

Allahu akbar allahu akbar, asyhadu an laa illaha illallah, wa asyhadu anna muhammadur rasuulullah, hayya 'alal sholaah, hayya 'alal falaah, qodqoomatishsholah qodqoomatishsholah, allahu akbar allahu akbar, laa illaha illallah ....

Iqomat telah dikumandangkan, sholat segera akan dimulai. Bunda mengingatkan anak-anak agar sholat dengan tertib. Adinda mengambil tempat di sebelah Bunda, di belakang shoff Muthi, kakaknya.

Imam pun mulai bertakbir, semua makmum mengikutinya, tak terkecuali Adinda dan teman-temannya. Imam membaca surat Al Fatihah dengan suara keras dilanjutkan membaca surat pendek lainnya.

Bunda masih berusaha khusyuk saat telinganya menangkap suara Adinda. Anak itu ikut membaca dengan keras. Ketika dia selesai membaca lebih dulu, dia bergumam, "lebih keras bacaanku kan. Lebih cepat bacaanku kan, hehe." Tapi ketika sampai pada bacaan yang dia belum hafal, dia bergumam, "was wis wus, was wis wus."

Bunda berusaha tetap khusyuk walaupun hatinya seolah ingin menghentikan apa yang dilakukan Dinda. Tak lama kemudian, imam pun mengucap salam. Alhamdulillah, sholat telah selesai ditunaikan.

"Tuh kan, Muthi bilang juga apa. Dinda tuh berisik saja, bikin malu," seru Muthi sambil menoleh ke arah mereka.

Bunda menatap Adinda lembut, oh, jadi ini yang dimaksud Muthi, pikirnya. Diangkatnya wajah polos Adinda, lalu diciumnya lembut.

"Adinda sayang, sholat itu harus dilakukan dengan khusyuk. Kita ini makmum, tidak boleh mendahului imam, walaupun kita sudah hafal bacaan yang dibaca imam," kata Bunda lembut,  "Dinda ingat? waktu sholat maghrib di rumah bersama Bunda? Begitulah yang seharusnya. Kalau di rumah, Bunda menjadi imam dan Dinda makmum. Dinda bisa tenang dan khusyuk. Bunda acungin jempol. Tapi Bunda jadi sedih ...."

"Sedih kenapa, Bunda?" tanya Dinda mengerjapkan mata.

"Karena Dinda tidak khusyuk waktu sholat jama'ah di masjid. Makanya, Mbak Muthi tidak mau mengajakmu, Dinda berisik sih. Itu mengganggu jama'ah yang lain. Lain kali tidak boleh begitu ya, Dinda."

"Dinda cuma ingin mereka tahu kalau Dinda sudah hafal bacaan surat-surat pendek. Dinda salah ya, Bunda?" tanyanya polos.

"Sholat jama'ah bukan itu tujuannya, Dinda. Sholat itu beribadah kepada Allah, menjalankan perintahnya. Bukan untuk pamer hafalan. Surat-surat dalam Alqur'an itu untuk dibaca, dipelajari, dihafalkan dan diamalkan. Dinda mengerti?"

"Iya, Bunda. Sekarang Dinda mengerti. Maafkan Dinda, Bunda."

Dan Bunda pun memeluk Adinda penuh sayang. Sang kakak ikut menghambur dalam pelukan Bunda. Mereka bertiga beriringan pulang.

#Demak, 26052015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar