PUASA PERTAMA AISYA
Oleh : Titien SDF
Siang itu matahari mulai meninggi, Aisya berlari-lari menuju kantin. Es lilin Bu Mumun sudah menggodanya sejak sebelum jam istirahat tiba. Dengan cepat dihampirinya termos es yang tergeletak di atas meja kantin. Tangan kecilnya sibuk memilih rasa yang sesuai selera. Dan ... hup, sebatang es lilin rasa kelapa muda telah tergenggam dalam jemarinya. Dikeluarkannya selembar ribuan untuk membayarnya, kemudian bergegas mengambil tempat duduk di bawah pohon angsana di salah satu sudut halaman sekolah.
Aisya masih asyik mencecap es lilinnya. Dua orang bocah kecil menatapnya berlama-lama.
"Kalian mau?" tanyanya, jengah.
Dua bocah itu menggeleng, "tidak, Mbak. Kami puasa. Mbak tidak puasa?"
"Puasa ...? Puasa apa?"
"Puasa ramadhan dong Mbak, ini kan bulan ramadhan. Mbak ndak puasa ya?"
"Memangnya kalian kuat? Kalian kan masih kecil."
"Yeee, biar cuma baru kelas satu SD, kami sudah bisa puasa sehari penuh," jawab mereka sambil terus bermain. Aisya tergagap.
"Mereka benar, Aisya. Sekarang bulan ramadhan, bulan puasa. Kamu ndak puasa, Nak?" tanya Bu Shofi yang entah sejak kapan berada di belakang Aisya.
"Tapi kan anak-anak belum wajib puasa ."
"Benar. Anak-anak memang belum wajib puasa, tapi sebaiknya belajar berpuasa."
"Puasa aja kok pake belajar," gumam Aisya sambil terus mengulum es lilinnya.
"Iya, supaya ketika sudah besar kita tidak merasakan berat lagi untuk puasa. Aisya sudah kelas tiga, sebaiknya besok mulai belajar puasa. Puasa itu juga ibadah, Allah sangat suka pada orang yang berpuasa. Aisya ingin disayang Allah?"
"Iya deh, besok Aisya mau latihan puasa. Aisya enggak mau kalah sama si kembar Inna dan Imma. Aisya mau disayang Allah juga, kata Aisya sambil membuang bungkus es lilinnya.
"Nah, gitu dong. Aisya memang anak sholohah," puji Bu Shofi.
###
Hari ini adalah hari pertama Aisya berpuasa. Cuaca masih sepanas hari kemarin. Aisya mencoba mengisi waktu istirahatnya dengan membaca buku di perpustakaan. Tak urung rasa haus mulai mengetuk-ngetuk kerongkongannya saat melihat gambar es krim yang begitu menggiurkan di buku cerita. Ditutupnya buku itu dengan gemas dan beralih membaca buku cerita yang lain.
"Tumben, kau tidak ke kantin," celetuk Bayu si penunggu perpustakaan. Julukan itu dia sandangkan padanya karena hampir setiap kali dia masuk perpustakaan, Bayu selalu ada di sana.
"Aku puasa, tau ...," jawab Aisya kesal.
"Weh, tukang jajan bisa puasa juga ya," jawab Bayu menggoda. Aisya cuma tersenyum kecut, dia sedang tidak ingin berantem sekarang. Dilangkahkannya kaki keluar perpustakaan. Jendela kantin yang setengah terbuka seperti memanggil-manggil. Memang, kantin sekolah tetap buka di bulan ramadhan. Itu karena tak semua muridnya beragama Islam dan menjalankan ibadah puasa.
Aisya memutar pandangannya, halaman sekolah dipenuhi murid-murid kelas 1 dan 2. Yang lain lebih memilih di perpustakaan atau di kelas masing-masing. Aisya menelan ludah, beberapa anak dilihatnya santai menikmati es lilin sambil bercanda dengan teman-temannya.
Sudah, Aisya. Kalau tak kuat, batalin saja puasanya. Gak ada yang lihat kok. Biasanya kan, kamu juga enggak puasa, bisik suara dalam hatinya.
Jangan, Aisya. Ingat kata Bu Shofi, kamu sudah kelas tiga. Harus mulai berlatih puasa. Masak kalah sama Inna dan Imma sih. Mereka kan baru kelas satu, tapi sudah menjalankan puasa, bisik hatinya yang lain.
Yee, namanya baru latihan ya enggak apa-apa dong, enggak sampai maghrib, teriak nafsunya.
Ingat Aisya, latihan puasa itu banyak pahalanya dan disayang Allah. Kamu enggak mau disayang Allah? tanya suara hatinya.
"Iya deh, aku mau puasa sampai maghrib. Aku juga mau disayang Allah," gumam Aisya akhirnya. Diurungkannya langkahnya ke kantin, berbalik menuju kelas. Beruntunglah dia, sebentar kemudian bel tanda masuk berbunyi. Mereka pun kembali disibukkan dengan pelajaran agama yang disampaikan oleh Bu Shofi.
Tak terasa waktu berjalan, akhirnya tiba waktunya untuk pulang. Aisya bersyukur, dia bergegas mengambil sepedanya dari tempat parkir dan sehera mengayuhnya pulang.
"Bunda! Aisy sudah pulang, lapar nih!" teriaknya keras.
Bunda pun tergopoh-gopoh menghampirinya, "eh eh, salamnya mana, sayang?" tanyanya lembut.
"Assalamu' alaikum. Lapar nih ... sama haus," keluhnya.
"Wa'alaikum salam. Aisy masih puasa? Belum batal?"
"Iya, masih. Tapi lapar ... haus lagi ...."
"Orang puasa itu mesti haus dan lapar. Bunda juga, ayah juga, temen-temenmu juga. Tapi harus ditahan."
"Kenapa sih kita diwajibkan puasa?"
"Supaya, kita bisa merasakan lapar dan hausnya orang-orang yang miskin dan kurang beruntung. Sehingga, kita bisa menghargai rejeki yang diberikan Allah. Selain itu, supaya kita juga peduli dan mau berbagi dengan mereka ...."
Aisya menunduk, Bunda benar. Baru beberapa jam dia berpuasa, rasa lapar dan dahaga dirasakannya sangat menyiksa. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tak mempunyai sedikit pun makanan di rumahnya. Bagaimana mereka menghilangkan rasa lapar dan hausnya. Aisya jadi merasa bersalah karena lebih sering menghabiskan uang sakunya untuk jajan dan malas bersedekah.
"Selain itu, puasa juga melatih kesabaran dan melembutkan hati," jelas Bunda lagi.
"Kalau sudah enggak tahan boleh minum enggak? Entar puasa lagi," tawar Aisya.
"Eh, sebentar lagi beduk maghrib lho. Ayo ditahan, mandilah dulu kemudian mengaji sambil menunggu beduk maghrib," perintah Bunda. Aisya pun mematuhinya.
Tak lama kemudian, Aisya sudah rapi dengan baju panjang dan jilbab mungilnya. Dengan dibimbing Bunda, Aisya belajar mengaji.
Dug dug dug allahu akbar allahu akbar .... Terdengar bedug maghrib berkumandang.
"Alhamdulillah, hari ini Aisya sukses puasanya. Barokallah, Allah pasti sayang. Besok puasa juga ya Nak," kata Bunda mencium pipi Aisy dengan sayang.
"Iya Bunda, Aisya ingin selalu disayang Allah. Tapi, sekarang Aisyah mau makan. Bukanya pakai apa nih?" jawab Aisya.
Bunda membuka tudung saji yang menutup meja makan. Tara ... di sana sudah tertata es kolang-kaling, puding susu dan irisan buah mangga kesukaannya. Di sisi yang lain, terhidang pula nasi, soto lengkap dengan ayam goreng dan perkedel. Hmmm, nyammy ... makan di saat lapar ternyata berasa sekali nikmatnya. Alhamdulillah.
#Demak, 23052015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar