SANDAL BARU LILIS
Di depan etalase sebuah toko sepatu, seorang bocah perempuan berdiri mematung. Matanya tak lepas memandangi sepatu dan sandal yang berjajar rapi memenuhi etalase. Dibetulkannya letak jilbabnya yang mulai miring. Diusapnya peluh dengan ujung jilbabnya. Lalu, dengan perlahan dilangkahkannya kaki memasuki toko itu. Lama dia berdiri di salah satu barang yang menarik hatinya. Sebuah sandal bergambar bunga-bunga cantik berwarna merah muda.
"Kalau untuk beli sandal begini, pasti tabunganku cukup," gumamnya, "sandal yang cantik. Tak seperti sandal jepit biasa. Kalaupun bepergian, aku tak malu memakainya."
"Maaf, Mbak, sandal ini harganya berapa?" Lilis, anak perempuan itu, memberanikan diri bertanya pada seorang pramuniaga di sana.
"Oh, itu murah, Dik. Cuma dua puluh dua ribu rupiah," jawab mbak pramuniaga itu tersenyum manis, "Adik mau beli? Boleh dicoba kok."
Mbak pramuniaga itu mengambilkan sandal yang dimaksud, Lilis pun mencobakan pada kakinya. Pas, alhamdulillah.
"Jadi dibeli, Dik?" tanya mbak pramuniaga.
"Tolong disimpankan dulu ya, Mbak. Lilis mau ambil uangnya dulu," jawabnya malu-malu. Si mbak mengangguk dan tersenyum pada Lilis yang bergegas pulang.
Sesampai di rumah, Lilis bergegas masuk ke kamarnya. Rupanya ibu belum pulang dari tempatnya bekerja. Diambilnya celengan rumah-rumahan miliknya. Diputarnya kunci dan dikeluarkannya isinya.
"Sepuluh ribu ... dua puluh ribu ... dua puluh lima ribu ... dua puluh sembilan ribu ..., alhamdulillah, uangku cukup, masih sisa lagi," soraknya gembira.
Lilis mengambil semua uangnya, dia berencana membelanjakannya untuk membeli sandal dan beberapa alat tulis. Sudah lama Lilis ingin punya sandal baru yang bisa dipakai untuk bepergian . Dia tidak sampai hati meminta sepatu pada ibunya yang hanya seorang karyawan konveksi, sementara uang tabungannya tak mungkin cukup. Sepatu kan mahal. Sebenarnya, sepatunya masih bisa dipakai, tapi dia juga ingin memakai alas kaki baru seperti teman-temannya.
Lilis bergegas pergi ke toko sepatu dan membeli sandal yang diinginkannya. Sebelum pulang, disempatkannya membeli alat tulis yang dibutuhkannya.
Sesampai di rumah, Lilis buru-buru membungkus sandal barunya dan meletakkannya di bawah tempat tidurnya. Dia tak ingin adiknya melihat sandal barunya.
"Mbak Lilis sedang apa?" tanya Dinda dari balik pintu yang setengah terbuka. Rupanya dia baru saja pulang dari belajar bersama di rumah temannya. Lilis yang masih dalam posisi jongkok menoleh kaget.
"Enggak, enggak apa-apa kok. Cuma memeriksa, kali-kali ada kotorannya," sahut Lilis, "tapi ternyata enggak ada."
"Oooh ..., ibu mana Mbak?" tanya Dinda.
"Belum pulang, mungkin sebentar lagi," jawab Lilis, "eh, sudah ashar, sholat dulu yuk."
"Iya. Habis ini kita masak telur dadar ya. Buat makan nanti. Di dapur sudah ada sayur asem buatan ibu, tinggal dipanasin."
Mereka pun beranjak berwudhu dan melaksanakan sholat ashar bersama. Selesai sholat, mereka menuju dapur untuk membuat telur dadar. Ibu memang sudah melatih mereka membuat telur dadar dan beberapa masakan lain, agar mereka bisa melakukannya sendiri sewaktu-waktu dibutuhkan.
"Assalamu'alaikum," terdengar sebuah suara. Rupanya ibu sudah pulang.
"Wa'alaikum salam," sahut Lilis dan Dinda. Mereka sudah selesai melakukan pekerjaannya.
"Subhanallah, kalian memang anak-anak yang sholihah. Ibu bangga pada kalian," seru ibu saat melihat sudah ada makanan yang tertata rapi di meja makan.
"Ibu juga punya sesuatu lho," kata ibu sambil mengeluarkan sebuah bungkusan. Ternyata isinya kue dan kolak pisang untuk mereka bertiga. Lilis dan Dinda bersorak kegirangan.
Dug dug dug ... allahu akbar ... allahu akbar .... Terdengar sayup-sayup bunyi adzan maghrib berkumandang. Alhamdulillah. Mereka pun segera berwudhu dan menunaikan sholat maghrib. Setelah itu, mereka makan bersama-sama.
"Bu, Dinda ngaji dulu di masjid, nanti sekalian sholat isya' ya," pamit Dinda.
"Gak bareng Mbak Lilis?" tanya Ibu.
"Mbak Lilis baru di kamar mandi, entar suruh nyusul aja," jawab Dinda sambil mencium tangan ibunya.
Tidak berapa lama, Lilis pun menyusul adiknya. Matanya terbelalak melihat sepasang sandal bergambar bunga-bunga cantik berwarna merah muda di teras masjid.
Lho, ini kan sandal yang kubeli tadi siang, batinnya gusar, pasti Dinda mengambilnya waktu aku ke kamar mandi. Sebenarnya Lilis ingin marah, tapi ditahannya, ini kan masjid, malu kalau dilihat orang-orang, masak sama adik sendiri berantem sih, pikirnya lagi. Lalu diputuskannya untuk membawa pulang sandal itu dan disimpan di tempat yang tersembunyi.
Lilis kembali ke masjid dan ikut bergabung dengan yang lain. Seusai mengaji, mereka lanjutkan dengan sholat isya bersama-sama.
Selepas sholat, anak-anak pun berlarian pulang. Lilis sengaja pulang paling akhir, dia ingin tahu bagaimana reaksi Dinda saat melihat sandalnya tidak ada di tempat. Pasti seru, pikirnya nakal.
"Lho, sandal baruku kok tidak ada? Siapa yang ngumpetin?" teriak sebuah suara. Lilis tertawa, tapi ... eh, itu bukan suara Dinda, pikirnya, siapa ya? Jangan-jangan ....
Lilis bergegas keluar. Ternyata Lia sedang menangis kebingungan, Dinda berusaha menghiburnya.
"Kenapa?" tanya Lilis.
"Huuu ... huuu ... sandal baruku ilang, huuu ... huuu ...tadi taktaruh di sini. Huuu ... warnanya merah muda, gambar bunga-bunga ... huuu ... huuu ...," jawab Lia sambil menangis.
Lilis merasa bersalah, dia melirik kaki Dinda, anak itu memakai sandalnya sendiri. Lilis semakin merasa bersalah.
"Eh ... oh ... eh ... mung ... mungkin aku yang salah, eee ... tadi kulihat sandal seperti sandal baruku, kupikir Dinda yang pakai jadi aku ambil. Ternyata aku salah ya. Maaf ya, Lia. Tunggu di sini, biar kuambilkan," kata Lilis malu-malu.
Lilis bergegas mengambil sandal yang disembunyikannya. Karena masih penasaran, ditengoknya bagian bawah tempat tidurnya. Sebuah bungkusan masih ada di sana. Dibukanya bungkusan itu, dijajarkannya dengan sandal yang tadi diambilnya dari masjid. Ternyata benar-benar sama, pantes aku jadi keliru, pikirnya. Segera diletakkannya lagi sandalnya ke tempat semula dan sandal Lia pun dikembalikan kepada pemiliknya.
"Maafkan aku ya, Lia," kata Lilis sambil mengulurkan sandal Lia.
"Ya, gak apa-apa. Alhamdulillah, sandalku gak jadi ilang," jawab Lia tersenyum.
"Maafkan aku ya, Dinda. Sudah berprasangka buruk padamu," kata Lilis malu.
"Yee, makanya, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Dilihat dulu dong," jawab Dinda agak kesal, tapi tak lama kemudian dia berkata," udah kumaafkan, Mbak Lilis. Lain kali jangan diulangi lagi ya," godanya. Mereka pun tertawa dan berkejaran pulang ke rumah.
#Demak, 26052015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar