Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Senin, 25 Mei 2015

Untuk kita renungkan

Untuk Kita Renungkan
Oleh: Titien SDF

Setiap kali, kita minta diberi kesempatan. Padahal Allah memberikannya tanpa perhitungan. Begitu banyak bahkan, Dia teramat tahu apa yang kita butuhkan. Di setiap situasi dan kondisi, tak terbatas oleh jarak dan ruang, selalu diselipkan. Terkadang tersemat di antara waktu luang, dalam kesenangan dan kebahagiaan. Namun acapkali berhimpit dengan kesempitan, dalam duka dan kesedihan. Seringkali, kesempatan itu luput dari pandangan, karena perhatian tak ke sana diarahkan. Lalu dia pun terlepas jauh dari genggaman. Kala tersadar, lisan berteriak meminta dia dikembalikan. Sedang sebelumnya telah kita sia-siakan. Astaghfirullahil adhiim, maafkan kami, Tuhan.

Setiap kali, kita minta diberi waktu. Padahal Dia telah memberikannya begitu banyak, menghitungnya pun tiada mampu. Namun diri ini mengeluhkannya selalu. Kekurangan ini itu, bahkan terbit keinginan membalikkan waktu. Padahal diri kita yang melalaikannya, meninggalkannya tanpa berbuat sesuatu. Atau memenuhinya dengan janji palsu dan angan-angan semu. Namun, masih saja dikuasai cemburu. Saat orang lain berhasil mengendarai waktu, dan menyematkan mahkota keberhasilan yang dikejarnya tanpa jemu.  Mungkinkah sukses itu menghampiri yang hanya diam dan menunggu. Oh, mana mungkin bisa begitu.

Waktu adalah ciptaan-Nya yang selalu baru. Yang kemarin hilang musnah, hari ini berlalu, besok berganti dengan yang baru. Walau satu menit tetap enam puluh detik, satu jam tetap enam puluh menit dan satu hari tetap dua puluh empat jam, dia tetap tak sama dengan yang telah berlalu. Lalu hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, dan seterusnya begitu. Akan selalu ada yang berubah dalam dirimu. Langkahmu takkan lagi setegar dulu. Satu demi satu helai uban kan hiasi rambutmu. Penglihatanmu, pendengaranmu, ingatanmu, juga semua kekuatanmu. Sedikit demi sedikit akan menurun seiring menanjaknya bilangan usiamu. Dosa dan pahala, siapa yang tahu? Semua bergantung pada buku catatan amalmu. Apa yang kaugoreskan di situ. Wahai jiwa, merenunglah, hisablah dirimu.

Semua kita diberi pilihan. Bebas, lepas dan tanpa paksaan. Mau ke kiri atau ke kanan: silahkan. Mau ingkar atau beriman pun diperbolehkan. Mau bersyukur atau tidak, itu pun terserah kalian. Tapi ingat, ada resiko yang harus ditanggung pada setiap pilihan. Ada yang ringan, sedang, ataupun berat membinasakan. Terkadang ada pula balasan dan imbalan. Berupa kesenangan dan kebahagiaan. Maka, pelajarilah semua pilihan agar tak menuai sesalan. Dunia hanya ladang persemaian. Alam akhiratlah rumah abadi kita sepanjang zaman. Duhai diri, letakkan nafsumu, mari kita renungkan.

#Demak, 25052015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar