#Banjarnegara Berduka
KARANGKOBAR
penulis: Titien Sumartini Dwi Fatmasari
Kaukah itu?
Yang bertahun lalu masih perawan
Pepohon menghijau di pucuk bebukit
Hutan tlogolele, juga tanggapan
Asri menawan bak gadis idaman
Dan mereka pun mendekapmu
Dalam rumah-rumah kecil di kaki bukit
Mengubah tampilanmu
Kekayu hijau menjulang
Serupa kain tebal membalut tubuhmu
Kini tersingkap sudah
Berganti rerumput liar
Pepadi dan sayuran
Transparan menampakkan kulit arimu
Yang bertahun lalu masih perawan
Pepohon menghijau di pucuk bebukit
Hutan tlogolele, juga tanggapan
Asri menawan bak gadis idaman
Dan mereka pun mendekapmu
Dalam rumah-rumah kecil di kaki bukit
Mengubah tampilanmu
Kekayu hijau menjulang
Serupa kain tebal membalut tubuhmu
Kini tersingkap sudah
Berganti rerumput liar
Pepadi dan sayuran
Transparan menampakkan kulit arimu
Kaukah itu?
Yang dulu setegar karang
Berdiri angkuh seolah menantang
Dan mereka datang padamu
Dengan semangat berkobar
Merenggut keperawananmu
Ambil semua hasil bumimu
Hampir tak bersisa
Akar busuk tertanam di kepala
Hilang semua batang dan daunnya
Biarkanmu merana
Teronggok tak berdaya
Sekujur badan penuh luka
Mereka hanya diam seribu bahasa
Yang dulu setegar karang
Berdiri angkuh seolah menantang
Dan mereka datang padamu
Dengan semangat berkobar
Merenggut keperawananmu
Ambil semua hasil bumimu
Hampir tak bersisa
Akar busuk tertanam di kepala
Hilang semua batang dan daunnya
Biarkanmu merana
Teronggok tak berdaya
Sekujur badan penuh luka
Mereka hanya diam seribu bahasa
Awan menggantung
Gerimis pun mengucur
Guntur dan kilat datang menggulung
Kau pun limbung
Karangkobar sudah tak setegar karang
Tumbang hanya dengan satu guncangan
Lima menit saja
Dan semua menjadi rata
Rumah-rumah mungil di kaki bukit
Kaupeluk erat dalam rahimmu
Berpuluh jiwa di dalamnya
Kaurenggut paksa
Seolah hendak berkata
"Aku hanya ingin
Suatu ketika nanti
Mereka lahir dengan akhlak mulia"
Gerimis pun mengucur
Guntur dan kilat datang menggulung
Kau pun limbung
Karangkobar sudah tak setegar karang
Tumbang hanya dengan satu guncangan
Lima menit saja
Dan semua menjadi rata
Rumah-rumah mungil di kaki bukit
Kaupeluk erat dalam rahimmu
Berpuluh jiwa di dalamnya
Kaurenggut paksa
Seolah hendak berkata
"Aku hanya ingin
Suatu ketika nanti
Mereka lahir dengan akhlak mulia"
Karangkobar...
Marahkah engkau pada kami?
Hingga harus terkubur di sini?
"Tidak," katamu
"Pemilikku hanya memberi peringatan
Akan adanya pembalasan
Atas apa yang kalian lakukan
Saat di dunia ini...
Atau mungkin di alam nanti
Camkanlah...
Pengingat itu adalah kematian"
Dan arsy pun bergetar
Membawa jiwa-jiwa tanpa dosa
Karangkobar tak lagi berkobar
Banjarnegara pun berduka
Marahkah engkau pada kami?
Hingga harus terkubur di sini?
"Tidak," katamu
"Pemilikku hanya memberi peringatan
Akan adanya pembalasan
Atas apa yang kalian lakukan
Saat di dunia ini...
Atau mungkin di alam nanti
Camkanlah...
Pengingat itu adalah kematian"
Dan arsy pun bergetar
Membawa jiwa-jiwa tanpa dosa
Karangkobar tak lagi berkobar
Banjarnegara pun berduka
#Demak, 17 Desember 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar