#BAB_I_DBT
Penghuni Kamar Gelap
Oleh ; Titien SDF
Sebuah rumah besar nan mewah terletak di jantung Kota Semarang. Ada banyak kamar di dalamnya. Di salah satu bagiannya, terdapat sebuah ruang sempit dan gelap tanpa jendela. Kontras sekali dengan semua yang ada di sana. Hanya ada sebuah kasur, sebuah lemari dan sebuah meja kecil. Letaknya a ruang gak tersembunyi di dekat dapur, bersebelahan dengan kamar pembantu. Beberapa boneka dan mainan anak-anak berserakan di lantai.
Ini adalah kisah tentang Laisa. Seorang bocah perempuan berusia 12 tahun. Rambut hitamnya indah nan lebat, sayang kurang terawat. Bulu matanya lentik, menatap kosong tanpa cahaya, bagai sebuah boneka tanpa ekspresi.
Tak ada yang salah dengan anggota tubuhnya. Semua lengkap, hanya tulang kakinya yang sedikit bengkok membentuk huruf 'O' bila sedang berjalan, tertatih dan sedikit pincang. Namun, nyaris tak bisa diajak bicara. Mungkin hanya Mbok Nah yang paham dengan kata-katanya yang tak jelas, persis seperti bocah usia dua tahun. Biasanya, dia hanya duduk diam dan asyik bermain dengan saputangan kumal kesayangannya. Saputangan yang sudah pudar warnanya bercampur air liur, ingus dan kotoran lain yang terjamah oleh tangannya.
Seperti yang sudah-sudah, setiap pagi menjelang siang Mbok Nah menuntun Laisa keluar kamar. Kedua kakaknya sudah berangkat sekolah. Kedua orang tuanya pun sudah berangkat kerja. Hanya tinggal Laisa dan Mbok Nah. Pembantu rumah tangga yang sudah berpuluh tahun mengabdi kepada Tuan dan Nyonya Sampurno.
Mbok Nah begitu sabar memandikan dan menyuapi Laisa. Kemudian mendudukkannya di ruang keluarga, menunggui sambil menyelesaikan pekerjaan rumahnya.
Laisa masih asyik memainkan saputangan kumalnya dalam wadah berisi air dan mangkuk plastik kecil berisi sabun. Dia terlihat gembira menggosok-gosokkan saputangan penuh sabun ke dalam air. Ditiupnya gelembung-gelembung sabun dengan gembira.
"Tus... tus... dor... tus... tus... dor... hahaha... Na... Na...," serunya terkekeh-kekeh.
"Iya, bagus ya Non..., kayak balon," jawab Mbok Nah sambil mengerjakan pekerjaan lainnya.
"Tung... tung... Na...," seru Laisa lagi.
Perempuan setengah tua itu meletakkan pekerjaannya dan mendekati Laisa. Merapikan dan mengikat rambut hitamnya agar tak jatuh menutupi wajah cantiknya. Lalu memegang tangan Laisa dan mulai menghitung.
"Satu... dua... tiga... empat... banyak sekali Non," katanya sambil memperlihatkan sepuluh jari tangan Laisa. Laisa tertawa.
"Anyak... anyak... hahaha...," seru Laisa mengibas-ngibaskan kedua tangannya. Busa sabun pun berhamburan di mana-mana.
Mbok Nah menatap wajah cantik itu dengan iba. Seharusnya, anak seusianya bisa sekolah dan bermain dengan teman-teman sebayanya. Bukan seperti ini.
"Na... Na... tus... tus...."
Laisa masih terus asyik dengan mainannya. Kali ini, ditumpahkannya sabun dan air ke bajunya sendiri. Menggosok dan meniup berulang kali sambil tertawa gembira.
"Basah semua Non, ayuk ganti baju...," kata Mbok Nah.
"Hua... hua... tus... tus...," ronta Laisa. Hati Mbok Nah pun terenyuh.
"Mbok Naaah! Kenapa Laisa dibiarin mengotori karpet?!"
Mbok Nah menoleh kaget. Rupanya Angga, kakak Laisa sudah pulang dari sekolah.
"Den Angga sudah pulang?" tanyanya.
"Ya," jawab Angga pendek sambil menyeret tangan Laisa menuju kamarnya.
"Hua... hua... tus... tus...," tangis Laisa meronta-ronta.
"Jangan Den, biar Mbok Nah saja," pinta Mbok Nah pada Angga.
"Ya sudah. Urus anak sialan ini, dan jangan biarkan dia keluar dari kamarnya," teriak Angga akhirnya.
Mbok Nah menuntun Laisa yang masih terisak masuk ke kamarnya. Dengan iba, digantinya baju basahnya dengan yang kering. Mendudukkannya di atas kasur yang diletakkan di atas lantai begitu saja.
"Non Laisa di sini dulu ya, biar Mbok Nah ambilkan makan. Non lapar ya," bisik Mbok Nah. Digerakkannya tangannya ke arah mulut dan perut. Memberi isyarat seolah sedang makan. Laisa mengangguk gembira, menunjuk-nunjuk mulut dan perutnya sendiri.
Tak berapa lama, Mbok Nah pun kembali dengan sepiring nasi dan sayur bayam kesukaan Laisa. Bocah itu tampak lahap sekali makannya.
Mbok Nah meletakkan piring kosong di atas lantai. Dibelainya Laisa dengan penuh iba, mengantarkan tidurnya.
"Mimpilah yang indah Non," gumamnya. Satu per satu bulir air mata jatuh di pipinya. Semua untuk meratapi nasib Laisa. Bagaimana tidak? Lahir di tengah-tengah keluarga berada, seharusnya membuat Laisa bahagia. Tapi... tidak, nasib Laisa tak lebih baik dari kelinci-kelinci peliharaan orang tuanya. Kelinci-kelinci itu memang diberi makan dan perawatan, namun tak boleh keluar dari kandang.
Mbok Nah mengusap air matanya. Dadanya masih dipenuhi rasa sesak, untuk Laisa. Bocah perempuan malang itu tak pernah boleh keluar dari kamarnya. Apalagi kalau majikannya sedang ada acara. Laisa akan dikurung dalam kamar yang dikunci dari luar. Dan hanya Tuan dan Nyonya Sampurno yang memegang kuncinya. Tanpa makanan dan tanpa penerangan. Untunglah, mereka juga tak pernah mau melihat keadaan kamar Laisa sehingga mudah bagi Mbok Nah untuk menyusupkan beberapa kaleng roti dan air mineral dalam botol. Setidaknya, itu bisa mengganjal perut laparnya dan membungkam teriakannya.
"Jangan sampai ada orang yang tahu tentang Laisa. Anakku hanya Angga dan Lena."
Begitu kata Tuan Sampurno dan Nyonya Lilia yang harus diingatnya. Itulah mengapa, dia hanya berani mengeluarkan Laisa dari dalam kamar bila mereka semua sudah pergi. Karena dia tahu, bagaimana rasanya dikurung dalam kamar tanpa penerangan. Karena dia tahu, bagaimana rasanya diingkari keberadaannya oleh orang tua sendiri. Bahkan kedua kakak kandungnya tidak menyadari kedekatan hubungan mereka.
"Laisa... Laisa..., mungkin Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang istimewa buatmu," gumamnya sambil membelai tubuh mungil yang tertidur pulas di sampingnya. Ditariknya selimut untuk menyelimutinya. Dikecupnya lembut keningnya.
"Semoga satu hari nanti, semua orang bisa menerima kehadiranmu dengan senang hati," gumamnya lagi.
Mbok Nah bergegas keluar dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sebentar lagi Tuan dan Nyonya pulang, jadi dia harus cepat mempersiapkan semuanya.
"Ke mana Den?" tanyanya pada Angga yang kelihatan terburu-buru hendak pergi.
"Jemput Lena," jawabnya pendek.
Den Angga sayang sama Non Lena, pikirnya. Andai Den Angga tahu kalau Non Laisa itu adiknya juga, akankah dia berlaku sama? Menyayanginya seperti Non Lena? Kasihan Non Laisa, dia hanya butuh ditemani dan diajak bicara. Tapi... mana berani dia mengatakannya pada Den Angga dan Non Lena. Bagaimana kalau Tuan dan Nyonya marah dan mengusirku? Bagaimana nasib Non Laisa nanti. Ah... sudahlah.
Berjuta kecamuk tanya melintas di hati Mbok Nah. Pertanyaan yang selalu muncul dan tak pernah bisa dijawabnya. Menyisakan kepasrahan dan berlapis-lapis doa untuk seorang anak yang diasuhnya sejak kelahirannya. Anak yang harus diakuinya sebagai anaknya, Laisa.
#Demak, 17032015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar