"Permata Itu Bernama Kejujuran"
Permata adalah sesuatu yang sangat berharga, disuka dan dicari sesiapa pun di dunia. Ada kalanya, orang harus rela menyelam dalam lumpur, mengeduk di kedalamannya untuk mencari keberadaannya. Kemudian, masih harus mengasah dan memolesnya agar terlihat sinarnya yang indah memendarkan pesona. Sebagian orang, mungkin tak perlu berpayah-payah melakukan proses demi proses untuk mendapatkannya. Namun, dia pun harus merogoh pundi-pundi sedalam-dalamnya. Atau bahkan harus rela mengorbankan atau menjual sesuatu miliknya untuk menebusnya.
Di dunia ini, banyak yang bernilai layaknya permata. Mereka susah dicari dan sangat bernilai harganya. Langka namun sangat diimpikan dan diinginkan oleh sesiapa. Salah satu permata itu adalah kejujuran dalam diri manusia. Diharapkan dapat menghiasi akal pikiran, hati dan amal perbuatannya.
Tak dapat dipungkiri, setiap orang menginginkan orang lain berlaku jujur padanya. Tak hanya di depan mata, namun juga jujur di belakangnya. Semua orang, tak terkecuali para pendusta, mereka pun menginginkan hal yang sama. Walaupun mereka sendiri tak bisa menjaga keberadaannya dan terus berdusta.
Dewasa ini, kejujuran menjadi sesuatu yang langka. Sebaliknya kedustaan mendominasi segala kondisi dan suasana. Para pedagang menyembunyikan kekurangan barang dagangannya dengan dusta. Pembeli menawar harga dengan semena-mena, bahkan kadang sampai mengarang cerita. Orang tua mengajarkan kebohongan pada anaknya. Anak-anak berbohong agar terhindar dari hukuman guru dan orang tuanya. Polisi lalu lintas mencari-cari alasan agar bisa menerbitkan surat tilangnya. Pengguna jalan berpura-pura tidak melihat lampu merah yang menyala ataupun rambu yang ada. Para demonstran menyuarakan haknya dengan melebih-lebihkannya, mendramatisir suasana. Para pejabat menutup mata, telinga dan mulutnya. Berpura-pura tak tahu apa-apa yang terjadi di sekelilingnya. Ghibah dan fitnah di mana-mana. Salah siapa?
Benarkah kejujuran itu sudah pergi entah ke mana? Tidak, Allah menyertakannya pada tiap-tiap jiwa yang terlahir di alam dunia. Menyatu dengan fitrah manusia yang melekat atasnya. Lalu mengapa dia serasa tiada dan pergi entah ke mana? Kitalah yang lupa keberadaannya, sehingga dia tetap terkubur dalam-dalam di sudut hati kita. Menunggu tangan-tangan keimanan menyentuh dan mengangkatnya. Kemudian mengasah dan memolesnya hingga mewujud nyata dalam akhlak kita. Akhlak yang karimah dan penuh pesona.
Suatu ketika, seorang badui hendak masuk Islam dengan mengajukan syarat kepada Nabi saw. Syarat agar diberikan dispensasi untuknya tersebab tiga kebiasaannya yang susah dihilangkan yaitu, berzina, mabuk dan dusta. Rasulullah saw mengabulkan permintaannya dengan memintanya untuk selalu jujur dan menghindari dusta. Setiap kali bertemu, Rasulullah saw selalu menanyakan keadaannya dan apa yang telah dilakukannya. Pada akhirnya ketiga kebiasaan buruknya pun dapat dihilangkan karena rasa malu untuk melakukan dan membicarakannya.
Rasulullah saw bersabda, "hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa pada surga." (HR Bukhari)
Allah swt berfirman dalam Alqur'an surah Ashshaff ayat 2-3, yang artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Itu sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."
Kejujuran adalah sumber keberhasilan, kebahagiaan dan ketentraman yang harus selalu diasah dalam diri setiap muslim. Pun dimunculkan dari diri anak-anak mereka sejak dini.
Munculnya sikap jujur bisa jadi dipengaruhi oleh tiga hal, peran orang tua, peran pendidik dan peran lingkungan.
Orang tua mempunyai peran paling dominan dalam memunculkan sikap/karakter jujur dalam diri anak-anak mereka. Mendidik mereka dengan nasehat dan memberi teladan yang baik dalam ucapan maupun perbuatannya. Karena seorang anak akan meniru apa yang dilihat dan didengarnya. Memberikan rasa aman dan senantiasa menepati janjinya. Karena seorang anak selalu ingat pada apa yang dijanjikan padanya. Tanamkan pula nilai-nilai agama pada anak, bahwa dirinya tak lepas dari pengawasan Allah yang Maha Mengawasi segala makhluk-Nya. Orang tua pulalah yang harus memilihkan lingkungan tempat tinggal yang baik, memilihkan sekolah dan guru yang baik untuk anak-anaknya.
Seorang pendidik atau guru pun mempunyai peran yang tak kalah penting dari peran orang tua. Dialah pengemban amanat menggantikan peran orang tua bila anak didiknya berada dalam lingkungan sekolah. Memang tidak mudah karena seorang pendidik tak hanya membina satu orang anak saja, tetapi banyak siswa. Namun bukan pula sesuatu yang mustahil bila dilakukan terus menerus, dibiasakan dan dievaluasi sejauh mana keberhasilannya. Masukkan nilai-nilai agama dalam tiap mata pelajaran yang ada, buang budaya malas dan dusta.
Dewasa ini, kantin kejujuran menjamur di beberapa tempat. Setidaknya, ini pun merupakan upaya untuk mengasah nilai-nilai kejujuran yang ada dan membumikannya.
Apabila orang tua dan para pendidik mau mengoptimalkan perannya dan senantiasa menyertakan doa untuk anak-anak (didik) mereka, in sya Allah permata kejujuran akan terasah dan mewujud nyata dalam tingkah laku mereka. Mereka pun akan mendewasa bersamanya, menyertakannya dalam setiap aktivitas dan membumikannya. Tak ada lagi pelanggaran, dunia damai karenanya. Siapakah yang tak menginginkan itu semua?
Maka saudaraku, mari kita asah permata kejujuran dalam diri kita, dalam diri anak-anak (didik) kita, agar sinarnya memendar menerangi semesta.
#Demak, 12032015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar