Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Senin, 02 Maret 2015

Dalam pusaran badai

DALAM PUSARAN BADAI

Senja belum berganti malam, saat Marni sampai di rumah. Diparkirnya motor di teras yang asri. Bunga-bunga anggrek mulai bermekaran, tangkainya yang menjulur panjang seolah ingin memberikan salam.

"Assalamu'alaikum," serunya seraya membuka pintu. Sepi, tak ada sambutan. Rupanya Ari belum pulang sejak pamit bermain futsal tadi pagi. Ada apa gerangan dengannya? pikirnya.

Marni bergegas mengeluarkan barang belanjaannya. Menghangatkan sayur dan menyiapkan makan malam. Dihempaskannya tubuhnya di atas sofa sambil menunggu suami dan anaknya pulang.

"Beep... beep... beep." Terdengar nada pesan masuk dari ponselnya. Spontan diraihnya dan membaca nama yang terpampang di layar. Dari Tri, adiknya.

"Mbak, segera pulang ke rumah Ibu. Ari kecelakaan."

Marni membaca sms itu berkali-kali. Segera ditekannya nomor adiknya, meminta penjelasan.

"Ya, gimana Mbak?" tanya suara di seberang.

"Smsmu?" tanya Marni belum percaya.

"Iya Mbak, Ari kecelakaan. Tadi sudah kubawa ke rumah sakit. Tulang belikat dan lengan atasnya patah. Tapi sepertinya yang lain baik-baik saja. Sekarang dia di rumah Ibu," jawabnya panjang lebar.

"Bagaimana kejadiannya?" tanya Marni lagi.

"Katanya lagi mau nganter teman perempuannya pulang di Pamularsih. Pas mau belok, tahu-tahu ada yang nyebrang yaaa... gitu... lah," jawabnya.

"Dia sama perempuan?" tanya Marni. Ada rasa geram yang menyelusup dalam hati, bukankah tadi dia pamit untuk futsal? pikirnya penuh tanda tanya.

"Iya..., tadi dia telpon aku. Ya aku segera ke sana. Dia bilang kalau gak ditolongi dia mau berdiri di tengah jalan raya aja," jawab Tri lagi.

"Mas Darma sudah tahu? Terus bagaimana dengan orang yang ditabraknya?" Marni masih terus bertanya.

"Yang seorang kakinya patah, satunya tidak apa-apa. Mereka sudah diurus Mas Darma," jawab Tri, Marni sedikit lega mendengarnya.

"Pulang ya Mbak. Ibu pesan, jangan dimarahi," kata Tri menutup pembicaraan.

Marni menghela napas. Selalu begitu, pikirnya. Ibu terlalu memanjakan Ari sejak kecil, jadi anak itu terkadang susah diatur. Kalau dimarahi uminya, mesti lari ke neneknya.

"Bu, jangan terlalu memanjakan Ari dong," katanya waktu itu.

"Enggak, Ibu nggak memanjakannya. Cuma memberi kasih sayang, kan kautinggal kerja sama suamimu," begitu jawab Ibu waktu itu.

Diputuskannya pulang ke rumah Ibu yang jaraknya tak seberapa jauh dari rumah. Benaknya dipenuhi rasa gundah. Bagaimana tidak, remaja tanggungnya itu berkali-kali memberinya ujian. Dari peristiwa berantem di sekolah, kabur pada jam pelajaran. Nilai-nilai yang jauh dari harapan. Kecelakaan ini pun sudah yang kesekian kalinya dalam setahun ini. Ah, Marni mendesah perlahan. Berikan kesabaran yang lebih untukku ya Allah, pintanya dalam hati.

Sesampai di rumah Ibu, Ibu sudah menyambutnya dengan sekeranjang pesan dan omelan.

"Jangan dimarahi... ini bukan salah dia semata-mata...," ujarnya. Lho... lalu salah siapa? pikir Marni.

"Kamu harusnya mengadakan ruwatan untuk Ari. Dulu waktu hamil dia, kamu nggak mau diadakan upacara mitoni. Itu kesalahan yang pertama. Terus... waktu dia lahir, wetonnya sama dengan abinya. Orang Jawa bilang, anak yang wetonnya sama dengan orang tuanya harus dipisahkan dari orang tuanya. Diadakan ritual 'buang anak,' kamu juga nggak mau...."

"Tapi Bu, masak sudah capek-capek mengandung harus dibuang dan dipisahkan," protes Marni memotong pembicaraan. Dipelototkannya mata sipitnya pada Tri yang diam-diam tertawa di belakang Ibu.

"Itu kan cuma sanepo, kiasan... bayinya diletakkan di atas pengki seolah-olah dibuang. Kan nggak dibuang beneran, cuma dipisahkan...."

"Lha nanti yang nyusuin siapa? Lagi pula kan Ari juga sering kutinggal kerja dan diasuh Ibu. Sama saja kan?" jawab Marni membela diri.

"Masak iya sih aku harus ngadakan ritual buang sekarang?" tanyanya lagi.

"Ya nggak. Ari kan sudah gede, mana mau dia ditidurkan di dalam pengki, nggak muat juga kan, haha...," sahut Tri tertawa. Ibu mendelik.

"Marni lihat keadaan Ari dulu ya Bu," kata Marni kemudian.
Marni merasakan sakit di sekujur tubuhnya saat dilihatnya remaja tanggung itu tertidur dengan luka-luka di sekujur badan sebelah kirinya. Gips membalut lengan kirinya. Diletakkannya pantat untuk duduk di sebelah Ari. Diusapnya kepala anak semata wayangnya dengan penuh kasih. Mengapa kaubohongi Umi, Nak? jeritnya dalam hati. Perlahan, bulir-bulir air matanya menetes, membasahi wajah yang disayanginya itu.

"Umi..., Umi datang menjengukku...? Umi nggak marah...?" katanya saat terbangun. Marni tak bisa berkata-kata. Air matanya menderas menandakan hatinya sedang terluka.

"Umi... Umi jangan marah... Umi jangan nangis... Ari janji... setelah ini, Ari akan selalu dengar kata-kata Umi... Umi... Umi...," katanya lagi sambil terisak. Dipaksakannya untuk bangun dan memeluk Marni. Mereka pun berpelukan dalam tangis.

"Sudah... jangan nangis lagi, ajak anakmu makan dulu. Dari tadi dia nggak mau makan, katanya nunggu uminya," tegur Ibu dari balik pintu.

Marni melepaskan pelukannya dan berkata lirih, "benar begitu?"

"Tadi kan habis futsal ada acara makan-makan Mi, jadi masih kenyang. Tapi sekarang kan Umi sudah di sini..., Ari lapar lagi," bisiknya nakal.

Marni tersenyum kecut. Entah mengapa, kemarahannya selalu hilang saat melihat wajah baby facenya. Selalu saja terbayang dalam ingatannya saat-saat melahirkan Ari  yang penuh kesulitan dan hampir merenggut nyawanya. Dengan gemas, dijentiknya hidung mancung milik remaja 15 tahun itu.

"Au... sakit...!" teriak Ari meringis kesakitan.

"Biar Umi ambilkan makananmu... di situ saja ya...," pesan Marni. Segera bergegas diambilnya makanan untuk mereka berdua dan kembali ke kamar Ari.

Di sela-sela makan, Marni banyak memberikan nasehat pada anak lelakinya, tentang hidup, ujian, pembelajaran dan kesyukuran. Memberikan pengertian bahwa hidup juga harus dipertanggungjawabkan kepada Sang Pencipta, Tuhan seluruh semesta.
###
Dua minggu setelah kejadian, adalah hari dimulainya masa MOS SMANH di Sukoharjo. Marni dan suaminya mengantar Ari yang belum sembuh benar ke asrama. Meninggalkannya dengan sederet pesan pada wali asrama dan guru kelas Ari agar pada Ari tak diberlakukan MOS seperti siswa lainnya. Juga pesan untuk Ari agar tak lupa meminum obatnya.

Hari-hari dilalui tanpa mengesampingkan komunikasi. Solo-Semarang bukan jarak yang dekat untuk menjenguk setiap hari. Hanya lewat telpon mereka bisa berkabar setiap malam.

"Umi, besok Sabtu jenguk ya... Badanku bengkak semua... rasanya cepet sekali capek nii...," telponnya di hari kelima.
Marni kaget sekali. Malam itu juga Marni dan Darma berangkat ke asrama Ari dan membawanya pulang ke Semarang. Tentu saja sepengetahuan guru kelas dan wali asramanya.

Keesokan harinya mereka membawa Ari ke RSUD Kota Semarang. Di sana Ari harus menjalani bermacam pemeriksaan yang lama dan melelahkan.

"Ibu, kalau menurut pemeriksaan laborat dan USG yang sudah kita lakukan, Dik Ari ini terdiagnosa kena gagal ginjal akut. Apa Dik Ari pernah mengalami gangguan ginjal sebelumnya?" tanya dr Wahyu.

Marni terdiam, berusaha mengingat-ingat. Sejurus kemudian dia berkata, "apa mungkin disebabkan kecelakaan ya dok? Beberapa minggu yang lalu dia mengalami kecelakaan. Sekujur badannya sebelah kiri penuh luka-luka, tulang belikat dan lengan atas kiri patah. Tapi saat itu dokter yang memeriksanya tidak mengatakan ginjalnya kena. Di perut dan pinggangnya juga tidak ada luka, hanya jejas biru yang ada di sana," cerita Marni.

"Bisa jadi Bu. Untuk memperjelas diagnosa, Ari perlu menjalani pemeriksaan lagi. Akan dimasukkan alat untuk mengambil sedikit jaringan ginjalnya dan dilakukan pemeriksaan laborat. Untuk itu Ari harus dirawat inap di RSDK Semarang, karena rumah sakit kami belum bisa melakukannya. Bagaimana Bu?" tanya dr Wahyu.

Tak ada pilihan lain, Marni dan Darma pun mengantar anak mereka ke RSDK untuk menjalani pemeriksaan selanjutnya. Hasilnya, positif gagal ginjal akut sebelah kiri. Ada jaringan mati pada seperlima bagian ginjal sebelah kiri. Artinya, Ari harus dirawat sampai waktu yang tidak ditentukan. Ya Robbi, ampuni kelalaian kami, doa Marni dalam hening.

Sepanjang ramadhan, Marni menunggu Ari di rumah sakit, bergantian dengan ayah dan neneknya. Setiap hari darah dan urinenya harus diperiksa. Selama itu pula banyak pantangan makanan yang harus dijalaninya, dan membiasakan diri minum obat yang begitu banyaknya.

"Umi, Ari ingin lebaran di rumah. Ari sudah bosan dirawat di sini," katanya suatu hari.

Akhirnya, dua hari menjelang lebaran, dokter memperbolehkannya pulang. Tentunya dengan catatan periksa laborat rutin dan kontrol tiap seminggu sekali. Juga berpantang pada beberapa jenis makanan harus tetap dijalani.

Keadaan Ari sungguh jauh berbeda dari sebelumnya. Wajah cute yang dia punya sudah mengembang sempurna serupa bulan purnama. Bundar dan penuh berisi. Badannya yang atletis pun menjadi gemuk tapi tanpa daya. Berlari sebentar saja sudah membuatnya terengah-engah kelelahan. Semua kegemarannya dahulu benar-benar tak dapat dia lakukan. Berenang, basket, futsal, semua seolah tinggal kenangan. Ari pun mulai uring-uringan.

"Umi..., Ari bosan..., Ari ingin sekolah lagi...," katanya suatu hari. Karena memang sudah dua bulan tidak masuk sekolah, akhirnya Marni dan Darma pun mengantarkannya ke asrama. Berbekal sederet pesan dan permintaan dispensasi, agar Ari dibebaskan dari pelajaran olah raga, juga agar setiap Sabtu bisa pulang dan kontrol ke rumah sakit.

Hari-hari dilalui Ari dengan sangat terpaksa. Obat yang harus dikonsumsinya ternyata membawa efek samping yang membuat Marni mengelus dada. Sekujur tubuh Ari menjadi sangat rentan kulitnya. Gatal selalu menemani malam-malamnya dan akan langsung menjadi luka bila digaruk. Luka bekas garukan itu meninggalkan bekas seperti luka sayatan di kulitnya. Di pinggang, perut, sekujur tangan dan kakinya. Obat itu juga membuatnya mengantuk sepanjang siang. Hampir semua teman menjauhi dan mencemoohnya.

"Umi..., doakan Ari cepat dipanggil Tuhan ya Mi..., doa Umi kan tidak tertolak... Ari sudah nggak kuat...," begitu pintanya setiap malam, saat Marni menelponnya, menemani malam-malamnya yang menggelisahkan. Memberinya semangat dan dorongan untuk terus hidup, berjuang melawan penyakitnya.

Jumat adalah hari yang selalu dinanti-nantinya, sorenya dia dapat pulang ke rumah karena Sabtu adalah hari periksa buatnya.

"Marni, Ari harus segera diruwat. Biar jauh dari sengkala (sesuatu yang tidak baik)," kata Ibu suatu hari.

"Kenapa Bu?" tantanya.

"Anakmu itu ontang anting (anak tunggal), julung sungsang lagi (lahir di tengah hari), Betara Kala suka dengan anak-anak semacam itu. Makanya dia kena sengkala terus, kena sial, sakit nggak sembuh-sembuh," jawab Ibu menerangkan kepercayaan kejawennya. Marni hanya tersenyum.

"Sudah kuruwat setiap malam kok Bu, dalam setiap sholat tahajudku. Marni minta langsung sama Allah, yang telah menitipkan Ari pada Marni," jawabnya lirih, mematahkan argumentasi Ibu.

Hari berganti bulan pun berlalu, tak terasa waktu penerimaan rapot tiba. Marni tak berharap banyak akan nilai rapot Ari. Alhamdulillah, dia bisa menyelesaikan kelasnya walau dengan nilai pas-pasan.

Di kelas berikutnya, mulai nampak perubahan yang berarti. Pemakaian obat dikurangi, jadwal kontrolnya pun berganti sebulan dua kali.

Marni bersyukur, Ari mulai tumbuh percaya diri. Satu demi satu teman-temannya mulai mendekati dan bisa diajak berbagi. Doa dan harapan terus Marni untai setiap malam untuk sang buah hati.

Semester berikutnya, Ari mulai mencoba mengikuti pelajaran olah raga. Wajahnya sudah tak sebulat bulan purnama. Badannya pun mulai meramping seperti dulu. Pemakaian obat berangsur dikurangi, jadwal kontrolnya pun berubah sebulan sekali.

Hampir dua tahun lamanya, Ari bergantung dengan obat melawan penyakitnya. Hingga kemudian benar-benar dinyatakan sembuh total dari gagal ginjal yang pernah diidapnya. Prestasi demi prestasi diraihnya, membuat orang tua dan para gurunya bangga.

"Umi, terima kasih... sudah menjadi ibuku..., Ari hanya bisa membalas dengan prestasi," katanya saat memberikan sertifikat lomba yang dimenangkannya.

Marni memeluknya haru, membisikkan cinta, harapan dan keyakinan untuknya.

"Hidup adalah pembelajaran, bermuara pada cinta, harapan dan keyakinan. Pada Tuhan yang menjadikan kita ada, dan pada orang-orang yang mencintai kita."

#Demak, 02032015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar