Balada Si Surti
Oleh : Titien SDF
Adzan subuh baru saja terdengar. Hawa dingin menusuk tulang. Sesekali terdengar kokok ayam jantan memecah kesunyian. Selebihnya, hanya suara jangkrik yang mengantar beberapa orang untuk berjamaah di mushola Kampung Rambutan.
Di sebuah rumah di ujung gang, Surti melipat mukenanya, mematikan kompor dan meletakkan hasil masakannya dini hari tadi du atas meja. Bukan masakan istimewa, hanya sedikit nasi, dan tempe sisa kemarin.
Surti merapikan pakaiannya. Mencium kening Thole yang masih tidur. Dihampirinya suami yang sejak dua tahun lalu berhenti bekerja. Semua karena kecelakaan di pabrik tempat kerjanya, membuatnya kehilangan kedua kaki dan mata pencahariannya. Dan harus merelakan Surti untuk menggantikannya mencari penghidupan. Bukan di pabrik yang sama, tapi kepayahannya tak jauh berbeda.
"Aku pergi dulu, Pak," pamit Surti mencium tangan suaminya. Suaminya hanya bisa mengangguk lemah, mengantarnya pergi dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan.
"Mak...! Jangan pergi...!"
Surti berhenti menuntun sepedanya, menoleh ke arah suara. Di sana, si Thole sudah berdiri memeluk daun pintu, memintanya tinggal. Ah, anakku sayang, keluhnya dalam hati, Emak harus bergegas.
Surti menghampiri si Thole, mengecup keningnya dan berbisik di telinga bocah tiga tahun itu, "Emak harus kerja, karena kita harus beli sesuatu untuk kita makan. Emak titip Bapak ya... Thole anak Emak, Thole mesti bantu Emak. Jangan nangis, jaga Bapak, tunggu Emak pulang."
Surti bergegas berangkat tanpa menunggu jawaban si Thole, disimpannya perih yang menjalar di hati dalam-dalam. Digenjotnya sepeda sekuat tenaga, menyusuri areal persawahan, melintasi rel kereta, melewati jalan raya menuju pabrik tekstil tempatnya bekerja.
Pintu gerbang masih terbuka saat Surti tiba di sana.
"Cepat! Cepat! Kalian ini seperti kambing-kambing yang lamban jalannya...," sambut Pak Mandor kasar. Matanya jalang menjelajahi tubuh Surti dari atas kepala sampai ujung kaki. Perempuan itu hanya bisa diam sambil menuntun sepedanya saat tangan Pak Mandor meremas beberapa bagian tubuhnya. Bukan sekali ini Pak Mandor berbuat begitu. Terkadang saat bekerja, menyortir tekstil-tekstil yang tak layak jual, Pak Mandor memeluknya dari belakang dan melakukan hal serupa. Suara mesin yang begitu bising menenggelamkan jeritannya. Dan tenaganya tak seberapa untuk melawan lelaki kekar tak bermoral itu. Sakit dan perih terasa, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya buruh rendahan, dan dia sangat membutuhkan pekerjaan. Perlahan, air matanya bercucuran.
"Kenapa Ti? Kamu dijahili lagi?" tanya Mbak Mumun, temannya.
"Lain kali bawa pisau kecil dari rumah. Kalau dia mau melakukannya lagi, tusukkan pisaumu ke itunya, terus lari sekuat tenaga," saran perempuan gendut itu.
"Hallaaah..., nikmati ajah..., siapa tahu bisa jadi selingkuhannya. Kan uangnya ngalir juga...," sahut Ninin mencibirnya.
Surti hanya mengelus dada. Siapa yang mau jadi selingkuhan, aku ini punya agama Mbak. Aku gak mau dilaknat Tuhan, jeritnya dalam hati. Tapi aku juga tak seberani Mbak Mumun, apa aku bisa melakukannya? jerit hatinya lagi. Semua ini benar-benar tak membuatnya nyaman saat bekerja. Bila bukan karena beban keluarga yang harus ditanggungnya, dia pasti tak akan berada di sini.
Surti berusaha konsentrasi pada pekerjaannya. Kali ini dia bertukar tempat dengan Mbak Mumun. Memilih berada di ruang pencucian yang panas dan terbuka ketimbang di ruang penyortiran yang tertutup. Semoga Mbak Mumun tidak dijahili seperti dirinya, doanya dalam hati.
Waktu cepat sekali berputar, hari menjelang sore. Pekerjaan Surti sudah selesai. Bergegas dia menuju barisan, menunggu giliran Pak Mandor menyerahkan upah mingguannya. Surti menelan ludah, tak ada lagi pekerja yang ada di belakangnya. Dirapalnya semua doa yang dihapalnya, berharap tak terjadi sesuatu yang buruk.
Satu per satu pekerja menerima upahnya. Giliran Surti pun tiba. Dengan takut-takut, dilangkahkannya kakinya untuk meminta haknya.
"Aku kangen padamu...," bisik Pak Mandor menarik Surti ke dalam pelukannya. Diselipkannya amplop berisi upah ke balik baju Surti dan meremas isinya dengan gemas. Kata-kata Mbak Mumun pun terngiang-ngiang di kepalanya, "Kalau dia menjahilimu lagi, tusuk itunya dan lari sekuat tenaga."
Surti mengumpulkan seluruh keberaniannya, sekejap, matanya menangkap sebuah gunting di atas meja. Diambilnya diam-diam, dan dengan sekuat tenaga dihunjamkannya di bawah perut Pak Mandor.
"Arggghhh... kau mau membunuhku ya...!" teriak Pak Mandor memegangi barang berharganya. Darah mengucur membasahi celana, merembes di antara jari-jarinya.
Surti terperangah. Hanya sekejap lalu lari menuju sepedanya dan menggenjotnya sekuat tenaga. Pulang. Entah bagaimana pula nasibnya esok hari, dia tak lagi peduli.
#Demak, 13032015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar