Tertolong oleh Cinta-Nya
Oleh: Titien SDF
Hari yang cerah. Matahari mulai meninggi saat aku selesai menuntaskan cucian dan menjemurnya. Anak-anak sudah berangkat sekolah. Rumah pun sudah rapi, hanya tinggal menyiapkan masakan.
Kuambil wudhu, melakukan sholat dhuha, menghasung rasa syukur dan mendo'a keselamatan. Semoga Sang Pencipta memberikan hidup yang barokah.
Aku baru selesai melipat mukena dan sajadah, saat ponselku berbunyi.
"Tuut... tuut... tuut...."
Kulangkahkan kaki menuju bufet di mana ponsel kuletakkan. Sebuah pesan masuk, dari suamiku.
"Afwan, Yang. Hari ini Abi ada kunjungan kerja ke Karanganyar. Mungkin malam baru pulang."
Kuketikkan pesan balasan, "hari ini Umi ada agenda di gedung IPHI Demak, Bi. Umi harus bagaimana ini?"
Kubaca pesan BBM dari suami berkali-kali, berharap ada pesan balasan. Pikiranku mendadak kacau, bagaimana tidak. Siang ini ada kajian yang harus diisi, sudah kusanggupi sejak lama. Tempatnya pun 30 km jauhnya. Dan aku, terbiasa menjadi tuan putri yang ke mana-mana diantar suami.
Semenjak menikah, suami memang amat berhati-hati menjagaku. Beliau setia mengantar ke mana pun aku pergi. Apalagi waktu itu kami hanya punya satu motor. Dan kami tinggal di daerah perumahan yang masih tergolong baru. Penduduknya masih sedikit, jarak dari jalan raya pun mencapai enam kilometer. Angkutan yang ada hanya bus damri, itu pun hanya empat armada dan terjadwal tiga kali sehari. Seperti aturan minum obat, jam enam pagi, jam dua siang dan jam enam petang. Di luar itu tak ada angkutan.
Dulu, aku bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit swasta yang jam kerjanya terbagi dalam tiga shift. Bisa pagi sampai siang, siang sampai malam, atau malam sampai pagi. Praktis suami satu-satunya yang bisa diandalkan. Semenjak anak-anak lahir, suami memintaku berhenti bekerja.
"Bekerja, mencari nafkah itu tugas suami, lagi pula menjaga dan mendidik anak-anak kita lebih utama untuk kaukerjakan," katanya waktu itu.
Semenjak berhenti bekerja, aku terfokus dengan lingkungan sekitar. Dengan bekal ketrampilan dan pengetahuan yang ada, aku berbagi dengan masyarakat di perumahan dan sekitarnya. Kukumpulkan mereka dan ajarkan berbagai ketrampilan, menjahit, menyulam, merenda, juga menganyam. Di hari-hari tertentu, kami berbagi petuah, mempelajari Qur'an dan hadits, menghidupkan sunnah.
Biasanya, suami yang mengantarku. Terkadang, ada di antara mereka yang menjemputku.
"Umi, jangan hanya terfokus dengan masyarakat di sini. Abi lihat mereka sudah lebih mandiri. Baiknya, Umi juga berbagi dengan lingkup yang lebih besar lagi. Dakwah kekurangan orang lho Mi."
Butuh berbulan-bulan untuk mengiyakan permintaan suami, karena berbagai pertimbangan. Namun, aku tetap berusaha mempersiapkan diri. Seiring jalan, teman-teman lamaku mendirikan sekolah berbasis Islam. Satu di komplek perumahan yang kutempati, dan satu lagi jauh di Demak kota. Di sinilah jalanku, bukan sebagai guru tetap tetapi sebagai nara sumber yang tidak terikat untuk kajian-kajian Islam yang diadakan sekolah.
Segala sesuatunya ada yang mengatur. Suamiku welcome asal tugas sebagai ibu rumah tangga terselesaikan, dan anak-anak tetap mendapat perhatian penuh dan kasih sayang. Alhamdulillah, segalanya bisa seiring sejalan.
"Tuuut... tuuut... tuuut...."
Terdengar nada tanda ada pesan baru, segera kutekan tombol untuk membacanya.
"Afwan, Yang. Umi naik motor saja lewat jalan pintas, titipkan motornya di Onggorawe lalu sambung naik bis ke arah Demak Kota. Hati-hati di jalan ya."
Aku bergegas menyiapkan masakan dan menatanya di meja makan agar saat anak-anak pulang mereka tak terabaikan. Kutitipkan kunci rumah pada tetangga sebelah, agar anak-anak tidak menunggu di luar rumah.
Bergegas, kupacu motor meninggalkan perumahan walau penuh rasa gamang. Sampai di depan Pasar Mranggen, aku harus berbelok, melewati jalan sempit sepanjang 15 km. Jalan yang sama sekali tak menyisakan ruang bila dua truk besar berpapasan, sementara kanan kirinya sungai dan minim bangunan rumah tinggal. Sejauh mata memandang, kebanyakan hanya ladang jagung dan areal persawahan.
Ciut sudah nyaliku melihat truk-truk besar berlalu lalang. Apalagi sudah terlalu lama aku tak membawa motor di jalan raya. Apa boleh buat?
Kulantunkan surah-surah yang melekat dalam ingatan untuk menghilangkan kecemasan. QS Al Mulk, Al Qolam pun mengalun menghilangkan resah gelisah yang ada.
Juz 29 hampir selesai kubaca, kuberanikan diri untuk menyalib truk besar di depan yang berjalan terlalu lambat. Jauh dari arah berlawanan meluncur pula truk besar serupa. Mungkin, aku kurang perhitungan, atau terlalu tegang mengemudikan kendaraan. Sebuah motor dengan keranjang di kanan kirinya terlihat menyalib truk besar, menghabiskan jalan yang ada di depan, membuatku tak berani terus menekan gas lebih kencang. Motor itu lewat di sampingku dengan enaknya, meninggalkan rasa takut yang luar biasa. Bagaimana tidak? Jalan sempit ini hanya selebar dua badan truk besar. Sedang di samping dan depanku ada truk besar yang sedang berjalan.
Pasrah, kubiarkan motor tetap melaju perlahan. Mundur ke belakang sudah tak memungkinkan. Hatiku menjerit , Allah... Allah... Allahu akbar.... Maafkan Umi, Abi... ya Rabb, aku pasrah pada ketetapan-Mu... kutitipkan keluargaku dalam penjagaan-Mu....
Aku tak berani membuka mata, hanya mendengar suara tertahan dan suara patahan entah pada bagian mana. Apapun yang terjadi, terjadilah...
Entah untuk berapa lama, tak kudengar apa-apa. Hanya desir angin, tiada kesakitan yang terasa, inikah surga? Ah... kuberanikan diri membuka mata. Aku masih hidup, alhamdulillahi robbal 'alamiin.
Truk di sampingku sudah melaju jauh di depan, truk yang di depan pun sudah jauh di belakangku. Kendaraanku masih utuh, hanya spion kiri kanan yang patah dan terjatuh di jalan. Tubuhku pun utuh tanpa goresan luka sedikit pun. Meski hati benar-benar seperti mau lepas saja. Sungguh ini adalah mukjizat yang menakjubkan.
Kulantunkan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir berkali-kali. Mengucap kesyukuran atas kasih sayang Allah yang baru saja kuterima.
"Ya ayyuhalladziina aamanuu, intanshurullahu yanshurkum, wa yutsabbit aqdaamakum. (Hai, orang-orang yang beriman, barangsiapa menolong agama Allah maka Allah akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya di muka bumi ini.)"
Bunyi Quran Surah Muhammad ayat 7 itu terngiang-ngiang di telinga. Aku baru saja membuktikannya. Membuatku semakin yakin menapaki jalan yang telah ditunjukkan-Nya. Menguatkan niat dan tekadku untuk terus lebur di dalam dakwah, menyebarkan ajaran risalah-Nya. Juz 28 kembali mengalun pelan, meluncur indah dari lisan sepanjang perjalanan.
Kucatat semua sebagai pelajaran, menuliskan dan membaginya untuk menguatkan keyakinan. Bahwa Allah selalu membersamai dan tak pernah menelantarkan.
Kuwariskan kesyukuran pada buah hati tercinta. Ajarkan pula pada mereka untuk senantiasa berjalan di atas risalah-Nya. Mempelajari Alqur'an menghafal dan mengamalkannya. Hidupkan terjaga, terlindungi oleh cinta-Nya.
#Demak, 12022015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar