Dinda oh Dinda
Oleh : Titien SDF
"Busyeeet... sudah jam enam pagi," keluh Dinda, tergeragap bangun saat sinar matahari pagi menyoroti muka lewat kaca jendela kamarnya.
"Mom Lilis kok gak bangunin aku sih?!" teriaknya.
"Lah... gue juga baru bangun Non," sahut Mom Lilis, pembantu sekaligus teman curhat Dinda itu dengan kalem.
"Jadwal take off pesawat jam tujuh nih... bisa telat aku," kata Dinda lagi.
"Ya udah, buruan berangkat gih. Mandi sama sarapannya kan bisa nanti-nanti kalo dah nyampe tujuan. Beres kan," jawab Mpok Lilis lagi. Masih santai, membuat Dinda gemes. Bantuin kek... atau apa, pikirnya.
"Bawa tuh roti kirimannya Mas Aji Santos buat ngemil di jalan, biar gak kelaparan," sahut Mpok Lilis lagi.
Dinda bergegas lari ke kamar mandi, cuci muka dan sikat gigi ala kadarnya. Dia sedang tak ingin meladeni mulut bawel Mpok Lilisnya. Tak sampai lima menit, Dinda sudah siap dengan t-shirt dan celana bermuda kesayangannya. Sepatu kets nike pun sudah melekat di kedua kakinya. Busyeeet... cepet amat.
Dinda menyambar tasnya yang berisi laptop dan surat-surat penting (surat tanah, surat tagihan, surat panggilan, surat cinta dan segala macam surat lainnya). Tak lupa disambarnya kardus berisi rpti kiriman dari Aji Santos, cheff penggemar beratnya. Kalau aku sih, gak mau yang berat-berat... entar gak kuat bawa.
"Aku berangkat dulu Mom!" teriak Dinda sambil berlari.
"Ya... titi DJ... jangan berantem di jalan ya...," teriak Mpok Lilis tak kalah keras dari balik jamban.
Beruntung, sebuah taksi melintas di depan rumah sehingga Dinda tak perlu menunggu lama.
"Bandara Soekarno Hatta Bang," seru Dinda sambil membuka pintu taksi dan menghempaskan pantatnya. Dibukanya tas mencari bedak dan lipstik andalanya. Setidaknya, orang tak boleh tahu kalau dirinya belum mandi dong. Jaim.
"What?! Kagak ada?!" teriak Dinda mengagetkan Pak Sopir yang refleks menoleh kepadanya.
"Ada apa Mbak?"
"Petoook...! Pletak...!"
Terdengar suara ayam terlindas taksi berbarengan dengan Pak Sopir yang bertanya pada Dinda.
"Bang! Bang! Berhenti! Abang harus ganti rugi ayam saya!" teriak seorang ibu sambil berlari mengejar taksi yang ditumpangi Dinda. Pak Sopir pun berhenti dan mempersilahkan si ibu untuk meminta ganti rugi pada Dinda.
"What?! Situ yang nabrak aye yang suruh ganti rugi. Kagak salah Bang?!" teriak Dinda marah.
"Lah, Mbak kan yang mengagetkan saya sehingga gak lihat ada ayam di jalan?!" jawab Pak Sopir tak kalah keras. Suara mereka pun mengundang semakin banyak warga yang ingin tahu apa yang terjadi.
Melihat banyaknya warga yang mendekat, akhirnya Dinda pun mengalah dan berkata, "ya udah deh ya. Aye ganti, tapi pake uang Abang dulu ya. Dompet aye ketinggalan nih. Ayuh Bang, buruan... kita balik ke rumah yang tadi...."
Pak Sopir pun terpaksa menyerahkan isi dompetnya dan berputar haluan mengantar Dinda pulang.
Sesampai di rumah, Dinda lari secepat kilat mengambil dompet dan kembali lagi menuju taksi. Disuruhnya Pak Sopir pindah duduk di jok belakang.
"Biar aye supirin deh... keburu telat," kata Dinda membiarkan Pak Sopir yang duduk seperti orang linglung di jok belakang.
Tak sampai sepuluh menit, taksi yang mereka tumpangi pun mogok.
"Ya ampun... aye lupa ngisi bensin Mbak!" teriak Pak Sopir membuat Dinda gemas. Untunglah pom bensin tak terlalu jauh sehingga Pak Sopir tak perlu berlama-lama mendorong taksinya.
Dinda melirik jam tangannya. Jarumnya menunjuk waktu 06.30 wib. Diterjangnya semua lampu merah dan berdoa semoga tak ada polisi lalu lintas yang melihat aksinya. Tak dihiraukannya Pak Sopir yang ketakutan melihat aksi gilanya itu. Biarin... ngejar waktu nih, pikirnya.
Jam tepat menunjuk angka 06.50 wib saat Dinda sampai di Bandara Soekarno Hatta. Diulurkannya dua lembaran seratus ribu kepada Pak Sopir yang terkencing-kencing di celana.
"Ini buat bayar ongkos taksi sama ongkos takutnya Abang, makasih ya," katanya dan bergegas berlari mencari pesawat yang akan ditumpanginya. Ditunjukkannya tiket kepada seorang penjaga.
"Wah... itu sudah terbang baru saja Mbak," jawab si penjaga.
"Loh, ini kan masih kurang lima menit lagi," kata Dinda protes.
"Jam tangan Mbak yang salah kali... tuh di dinding sudah jam 07. 25 wib," jawab si penjaga.
"Jiaaaah... padahal sudah mengerahkan sekuat tenaga untuk sampai di sini... kok jamku salah sih...," keluh Dinda lemas. Kelelahan pun menggelayuti tubuhnya.
Pesawat sudah terlanjur berangkat, Dinda pun menumpahkan kekesalan dengan menghabiskan roti yang dibawanya sekardus-kardusnya. Kenyang deh.
#Demak, 12032015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar