Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Minggu, 01 Maret 2015

Teman sejati

Teman Sejati
Oleh : Titien SDF

Sudah beberapa hari ini Nisa uring-uringan. Bagaimana tidak? Teman-temannya berencana datang ke pesta Valentin di villa Rosi di Puncak. Dia sudah minta ijin Umi untuk ikut, tapi Umi tidak mengijinkannya.

"Bukan Umi ndak sayang Nisa. Tapi, Umi ndak lihat sisi positifnya acara pesta-pestaan gitu," jawab Umi saat Nisa meminta ijin.

"Umi kayak ndak pernah muda saja...," gerutunya marah. Dibantingnya pintu kamar. Pokoknya Nisa mau mogok makan sampai besok, tekadnya.

"Ting tong... ting tong... assalamu'alaikum."

Terdengar suara bell pintu dipencet seseorang. Nisa masih bertahan di dalam kamar, merajuk dan marah.

"Srek... srek... srek...  wa'alaikumussalam." Terdengar suara langkah kaki di depan kamar diikuti suara Umi menjawab salam.

"Eh Aisyah, ada apa ya... ?" tanya Uminya.

"Eh Tante, Nisanya ada? Aisy mau minta ditemani ke pondoknya Mbak Hana. Bisakah?" tanyanya sopan.

"Pondoknya Hana yang di Pabelan itu? Rencana berangkat kapan?" tanya Umi.

"Besok pagi Tante. Aisy ingin ikut Festival Remaja Islam yang diadakan di sana. Mumpung masih liburan," jawab Aisyah.

"Loh, Aisy ndak ikut acara pesta Valentin di villanya Rossi?" terdengar suara Umi bertanya lagi.

"Endak Tante," jawabnya pendek.

Nisa mendengar semua percakapan itu dari dalam kamarnya dengan gemas. Kenapa sih, anak udik itu malah datang ke sini? rutuknya dalam hati.

Aisyah memang teman sekampusnya. Tapi, sepupunya itu terlalu kampungan, menurut Nisa. Dan juga terlalu cerewet baginya, terkadang dia suka mengomentari penampilannya. "Nis, jangan pake celana jins dong. Pake rok panjang saja, lebih feminin. Kerudungnya dipanjangin, jangan kayak kerudung anak kecil. Jangan pake lipstik, jangan pake wangi-wangian... bla... bla... bla...." Begitu kata-katanya selalu, Nisa sampai hapal.

Huh, aku kan masih muda. Pengen tampil cantik juga seperti Siska, Rosi dan Vina. Mereka jadi rebutan cowok-cowok cakep di kampus, bikin ngiri saja, pikir Nisa.

"Nisa..., buka pintu sayang. Ada Aisyah nih...," terdengar suara Umi dari balik pintu.

"Mau ngapain?" tanya Nisa ketus, dibukanya pintu kamar dengan muka ditekuk.

"Mau diajak ke Pabelan. Ikut Festival Remaja Islam. Ikut ya... Umi anterin deh," bujuk Umi.

"Iya Nis, ada book fairnya juga lho. Rugi lho kalau ndak ikut, ada stand karya ANPH dan Kang Abik lho," Aisyah ikut membujuknya.

"Sebenarnya..., kalau Umi mengijinkan Nisa ingin ikut Siska cs berpesta. Tapi... Umi tidak memberi ijin sih, jadi... daripada bengong di rumah ya..., oke deh... Nisa ikut. Tapi Umi janji ya..., di book fair Nisa boleh borong buku," jawab Nisa akhirnya.

Keesokkan harinya mereka pun berangkat. Sepanjang perjalanan Aisyah terus bercerita dengan Umi. Nisa lebih memilih diam membayangkan kehebohan pesta Valentin di villa Rosi. Andre, Roni, Johan dan Mario pasti juga datang ke sana. Empat sekawan tiruan bintang KPop itu idola anak-anak kampus. Hiiih..., padahal dia ingin bersama mereka. Nisa bersungut-sungut sendiri menatap keluar jendela. Sungguh perjalanan yang membosankan.

Sampai di Pondok Pabelan mereka disambut oleh Mbak Hana dan teman-temannya. Stand book fair langsung terlihat begitu mereka memasuki gerbang pondok. Melihat buku-buku cantik yang tertata apik, rasa kesal di hati Nisa berangsur sirna. Dia langsung tenggelam dalam keasyikannya di antara tumpukkan buku-buku yang tersedia di sana.

"Ayo Nis, konsernya sudah dimulai nih. Ada taujih Salimafillah, jangan sampai ketinggalan," bisik Aisyah sambil menarik tangan Nisa. Mau tidak mau Nisa mengikutinya.

Festival hari itu cukup mengobati kegundahan hati Nisa. Tak rugi rasanya datang ke pondok, mengorbankan pesta yang diimpi-impikannya. Apalagi di sana dia menemukan buku Api Tauhid karya Kang Abik yang diidam-idamkannya.

Dua hari festival meninggalkan kesan mendalam di hati Nisa. Teman-teman Mbak Hana berkenan menampung mereka untuk bermalam di kamarnya. Mereka begitu santun dalam bertutur dan bersahaja. Membuat Aisyah, Nisa dan Uminya bagai di rumah saja.

Dalam perjalanan pulang, mereka mampir ke suatu tempat untuk makan malam. Nisa mengambil tempat duduk tepat di depan televisi layar lebar yang diletakkan di sudut ruangan.

"Aparat menggerebek sebuah villa di daerah Puncak, Jawa Barat. Diketemukan 11 orang remaja terdiri dari 4 remaja putri dan 7 remaja putra sedang mengadakan pesta sex dan narkoba. Pemilik villa ditengarai seorang mahasiswi berinitial R putri seorang pejabat publik bernama AR...."

Nisa terhenyak mendengar isi berita yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Terlihat dilayar remaja-remaja itu diarak petugas kepolisian. Nisa terbelalak, itu seperti Rosi, Siska, Vina, empat KPop idolanya dan teman-temannya. Jadi... mereka.... Nina merasakan kedua lututnya mendadak lemas.

"Ada apa Nisa?" tanya Umi terheran-heran melihatnya.

"Itu... itu... teman-teman Nisa, Mi...," jawabnya tergugu, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah layar televisi.

Nisa merasa malu, selama ini dia terpikat dengan penampilan mereka yang elegant. Syukur berangsur menjalari dada, karena Umi dan Aisyah telah mencegahnya mengikuti mereka. Entah apa jadinya bila kemarin dia nekat pergi bersama mereka, naudzubillah.

Nisa memandang Aisyah dan Umi penuh rasa terima kasih. Disadarinya kini, Aisyah, sepupunya itu benar-benar teman sejati, yang selalu mengingatkan dan menjaganya dalam kebaikan. Yang tidak menjerumuskannya dalam kesesatan. Kuatkanlah ikatan tali persaudaraan kami ya Robb, pintanya dalam hati.

#Demak, 01032015

Biodata:
Titien Sumartini Dwifatmasari, penyuka seni, pegiat dunia literasi. Karya-karyanya dapat kita temui, dalam buku antalogi Senandung Serunai, Samudera Aksara Pujangga, Putik Desemberku, I love U Mom, Melati Untuk Ibu, dan masih banyak lagi. Penulis dapat dihubungi via facebook dengan nama akun yang sama, atau via email di titienfatmasari@gmail.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar