Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 12 Maret 2015

Rumah sastra Dinda

Rumah Sastra Dinda
Oleh: Titien SDF

Rumah itu tak seberapa besar, namun tampak cukup kokoh. Terletak di salah satu sudut kota Yogyakarta. Dindingnya juga belum selesai dicat, ruangannya pun masih kosong, belum terisi apa-apa.

Dinda masih berdiri di depan teras, merasakan semilir angin senja Yogyakarta. Beberapa helai daun terbang terbawa angin, jatuh di halamannya. Mengingatkannya pada masa kecil. Pada kebebasan dan harmoni yang ingin dibangunnya.

Dinda menebarkan pandangannya, di ujung jalan berdiri sebuah percetakan langganannya. Sengaja dipilihnya tempat ini untuk mewujudkan rumah sastra impiannya. Rumah yang benar-benar ada, berdiri tegak dengan kegiatan sastra di dalamnya. Rumah yang dapat dilihat, disentuh dan diabadikan. Yang bisa dijadikannya tempat berkumpul anggota keluarganya di dunia maya. Agar dia bisa berkata, "inilah rumah kita. Rumah Din's dan penerbit Din's.

Din's, nama yang dilekatkannya pada sekelompok teman pena, yang tertarik untuk aktif dalam dunia kepenulisan, dunia sastra, dunia buku, dunia yang dicintainya sejak kecil.

"Apa project minggu ini, Mbak Dinda?"

"Mbak Dinda, kapan pengumumannya nih?"

"Woiii... karyaku dibaca gak sih?"

Kalimat-kalimat itu sangat akrab menyapanya, terkadang membuatnya kesal namun juga sangat dia rindukan. Kalimat yang membuatnya merasa berarti dan berharga di antara para membernya.

Memang, ada kalanya Dinda kesal setengah mati bila ada member yang tak paham-paham dengan arahannya. Menulis disingkat-singkat, tidak sesuai EYD, bahkan mereka yang tak paham dengan apa yang mereka tulis. Namun, seringkali Dinda juga merasa bahagia, bila ada member yang makin pinter menulis. Apalagi bila ada yang karyanya berhasil dibukukan/ diterbitkan.

"Beep... beep... beep," beberapa pesan di ponselnya.

"Di mana nih, Mbak Dinda?" tulis Wantie.

Dua pesan yang serupa dikirim oleh Bu Lilis dan Lia.

Dinda pun menuliskan sebuah alamat dan meminta mereka bertiga segera menyusulnya.

"Ogah, aku lagi asyik mengamati Masjid Aya Sofia. Mau bikin yang serupa di rumah," tulis Bu Lilis.

"Maaf Mbak Dinda, lagi ketimbun karya member Din's," tulis Lia.

"Sorry Boss, lagi kopdar sama Wahyu. Ngerjain tugas," tulis Wantie.

What? Kalian yang nanya di mana aku, malah gak mau kusuruh kemari.... Jiaaah, gak bisa dibiarkan nih, pikirnya kesal.

"Nek, udah tua jangan liat kartun Putri Sofia dong... itu kan pantesnya buat cucu nenek," balas Dinda pada Bu Lilis.

Bu Lilis kesal sekali membacanya, orang lihat Masjid Aya Sofia dibilang nonton kartun Putri Sofia. Dasar gila! pikirnya. Segeralah ditulis pesan balasan.

"Mau kutulis buat project dongeng Din's berikutnya. Hehe."

Di tempat lain Lia gemes membaca pesan balasan Dinda.

"Loh, katamu cinta mati sama sastra, bagus kan kalau jadinya terkubur hidup-hidup di dalamnya."

Sedang Wantie dan Wahyu senyum-senyum sebal oleh bunyi balasan Dinda.

"Kalau masih mau jadi member Din's segera kemari. Jangan pacaran ajah." Siapa yang pacaran sih? Wantie dan Wahyu saling berpandangan. Mereka pun saling mengangguk dan secepat kilat menyusul Dinda. Tak lupa dibawakannya sepatu boot Dinda yang tertinggal di rumah Wantie. Masak sih?

Dinda sedang mereka-reka rencana penataan rumah sastra barunya, tiba-tiba tiga buah taksi hampir berbarengan berhenti di depan rumah. Dari dalamnya keluar Bu Lilis, Lia, Wantie dan Wahyu dengan tergopoh-gopoh.

Bu Lilis langsung saja nyelonong masuk sambil membawa dipan lengkap dengan kasur dan bantal gulingnya.

"Mau ngapain nek?" tanya Dinda heran.

"Numpang tidur... ini rumahku juga kan," jawab Bu Lilis santai.

"Jiaah... ini mau ngapain juga?" seru Dinda saat dilihatnya Lia asyik menempelkan sesuatu di dinding rumahnya.

"Biar nggak menimbun, karya-karya ini mau taktempelin sini ajah, ngirit cat... ini rumahku juga kan," kata Lia kalem.

Dinda makin garuk-garuk kepala melihat Wantie dan Wahyu asyik menata sepatu boot dan barang-barang Dinda lainnya di depan pintu.

"Kamu juga... lagi ngapain," tanyanya.

"Kali ada yang lewat... terus tertarik... mau beli... kan uangnya bisa buat beli laptop sama perabotan yang lain," kata mereka nyengir kuda.

Dan Dinda pun pingsan, tak berkutik dibuatnya.

#Demak, 03032015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar