Pengikut

Cari Blog Ini

Pengikut

Kamis, 12 Maret 2015

Cinta memang harus menunggu

Cinta Memang Harus Menunggu
Oleh: Titien SDF

Pelajaran sekolah baru saja usai. Anisa bergegas mengemasi buku-buku dan memasukkannya dalam tas. Sebuah tepukan di pundak mengagetkannya.

"Rifa... ada apa?" tanya Anisa sambil menoleh.

"Sstt... jangan keras-keras, aku cuma mau ngasihkan ini...," kata Rifa lirih. Diulurkannya sebuah kertas terlipat rapi sambil berkata," dari abangku."

Anisa menyimpan amplop itu di sela-sela buku sekolah dalam tasnya dan bergegas pulang ke asrama.

Sampai di kamar, Annisa meletakkan tasnya di atas tempat tidur, mengganti baju seragamnya dan bergegas naik ke atas ranjang. Beruntung, tempat tidurnya berada di ranjang atas. Memang merepotkan, karena harus naik tangga untuk merebahkan badan. Namun juga menguntungkan, karena barang-barang yang diletakkan di atas jauh lebih aman daripada yang diletakkan di bawah.

Anisa membuka tasnya, mengambil lipatan kertas yang diselipkannya dan membaca isinya.

"Sudah kudengar kabar tentangmu
Perempuan sholihah dambaan kalbu
Bisakah kita bertemu di satu waktu?
Sungguh ku ingin lebih dekat mengenalmu
.......dari: Hanif"

Annisa melipatnya kembali dan menyimpannya. Benaknya menyisakan tanda tanya, apa maksudnya?

Annisa bergegas turun dan keluar kamar. Matanya mencari-cari sosok Rifa di antara teman-temannya. Segera digamitnya menjauh dari mereka.

"Ada apa Nis? Sudah kaubaca?" tanya Rifa sesaat setelah mereka tiba di UKS. Kebetulan UKS sedang sepi dan sekarang giliran Annisa untuk berjaga.

"Apa maksudnya ini Rifa?" tanyanya sambil menunjukkan lipatan kertas yang diberikan Rifa tadi siang.

"Abangku menaruh hati padamu," jawab Rifa.

"Terus....?" tanya Annisa.

"Ya... ingin menjadi kekasihmu," jawab Rifa lagi.

"Bukankah kamu tahu bahwa aturan sekolah tidak memperbolehkan hubungan lawan jenis? Bukankah kau pernah cerita kalau abangmu punya kekasih juga? Bukankah dalam Islam tak ada pacaran sebelum pernikahan?" tanya Annisa bertubi-tubi.

"Ya... jangan sampai ketahuan dong. Please Nis, abangku bilang, kalau kau mau menjadi kekasihnya dia akan berubah menjadi lebih baik," bujuk Rifa.

"Rifa... Rifa..., abangmu memang pintar, cakep, suaranya bagus, prestasinya juga banyak. Tapi... untuk yang satu ini, maaf aku tidak bisa," jawab Annisa.

"Bilang padanya, kalau laki-laki berduaan dengan perempuan, yang ketiganya adalah syetan," katanya lagi.
###

Hanif terpekur mendengar jawaban Annisa dari mulut Rifa, adiknya. Dia tak bisa menyalahkan Annisa, semua yang dikatakannya benar. Entah sudah berapa gadis yang dipacarinya, dengan sembunyi-sembunyi tentunya. Semua itu dilakukannya hanya agar disegani teman-temannya, agar dibilang macho, idola kaum hawa. Tanpa pernah memikirkan bagaimana perasaan mereka terhadapnya.

Annisa memang tak seperti gadis-gadis yang dikenalnya, yang mau saja diajak pacaran sembunyi-sembunyi. Padahal aturan sekolah sudah jelas, kalau ketahuan menjalin hubungan dengan lawan jenis pasti dapat sanksi dan peringatan.

Hanif menghela nafas, menata kembali hatinya yang gelisah. Bayang-bayang Annisa tak juga hilang dari pikirannya. Wajah ayunya, sikapnya yang cuek terlihat begitu anggun di matanya.

Hanif memandang langit yang kian muram menjemput malam. Semuram hatinya yang bertepuk sebelah tangan. Terlintas lagi kata-kata Rifa, adiknya, tadi siang.

"Abang benar-benar mencintai Nisa? Bukan cuma tertarik seperti yang sudah-sudah?" tanya Rifa.

"Entahlah Rif, Abang tak tahu... hanya saja... wajahnya selalu terbayang-bayang di pelupuk mata," jawabnya waktu itu.

"Annisa itu selalu menjaga sikapnya Bang, dia juga rajin ibadah dan menjaga hafalan. Dia bilang, Umi dan Abinya pernah berkata, "cinta itu sepaket dengan pernikahan. Jadi hendaklah setiap mukmin menjaga dan mempersiapkannya untuk pernikahan mereka. Tak ada pacaran yang halal sebelum pernikahan. Dan sesuatu yang haram tidak akan menghasilkan kecuali keburukan," kata Rifa lagi.

Hanif terpekur karenanya, dia hanya diam memikirkan kata-kata adiknya.

"Pantaskan dirimu dulu... kelak bila kau sudah siap dengan tanggungjawab dalam pernikahan... datanglah padanya lagi. Aku akan membantumu," kata Rifa, menepuk pundaknya sambil berlalu.

"Kau benar Rifa... aku akan berusaha memantaskan diriku. Dan bila saat itu tiba, semoga Annisa masih belum ada yang punya. Semoga.... Ah, cinta memang harus menunggu," gumamnya.

Bintang-bintang mulai menyembul membagikan kerlipnya, menghalau gundah seorang pemuda yang dilanda cinta.

#Demak, 12032015

Biodata penulis:
Titien Sumartini Dwifatmasari, ibu delapan anak ini mulai aktif dalam dunia kepenulisan sejak tiga tahun lalu. Sebagian karyanya dapat dinikmati dalam buku antologi puisi dan cerpen seperti Senandung Serunai, I love U Mom, Kilauan Permata Jiwa, dan masih banyak lagi. Penulis dapat dihubungi via facebook di akun yang sama atau via email di alamat titienfatmasari@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar